Selamat Datang Di Emye Private Blog
Membaca, mendengar, dan menterjemahkan Al Qur'an
Sedikit Bigraphy Singkat tentang Aku.
Title

Bapakku

Bapakku yang Sangat Tegas Akan Sesuatu yang Dia Anggap Fundamental, Berprinsip Kuat. Sangat Religius. Jawa Banyumasan. Gualakeee Poll, hehehe...

Read More
Title

Ibuku

Ibuku.., Seorang Wanita yang Sangat Kuat, Tegar dan Banyak Akal. Bisa Menjadi Seorang Ibu Sekaligus "seorang ayah" Juga. Smart dalam bertahan hidup, Sabar di Keseharian, Walau Galak Tapi Pemaaf... Saluut Untukmu Mah...!

Read More
Title

Aku Yang...

Inilah Yang Dulu Selalu Mencari Masalah, dan Terkena Masalah dan Hampir Terkubur Karenanya.. Berharap Maaf dariNYA, Kedua Orangtuaku dan Juga Kalian Semua.. Do'akan RidhoNYA Untukku ya.. Terimakasih Untuk Kalian Semua...

Read More
Title

Rumahku Hidupku..No Place Like Home

Di Sinilah Awal Semua Kisahku.., Di Awali Dengan Kasih Sayang dan Pengharapan dan Di Jalani Dengan Kegilaan lalu Berakhir dengan Keterpurukan. No More Fly..No More Sky and No More Cry...

Read More
Title

Seberkas CahayaNYA...

Menunggu dan Berharap Banyak dariNYA... Jawaban dan Ampunan Setelah Doa-doa yang Kutambatkan.. Setiap Detik, Setiap Saat Sebelum Saat Akhir Hidupku Tiba...

Read More
Title

Pikirkan Dulu!

Pikirkan dan Pertimbangkan Semua Pilihan. Karena Kau Harus Memilih, Gunakan Kata Hatimu. Ambil Apa Yang Baik Dari Kisahku Kawan.. Semua Hikmah. Sekarang atau Tidak Sama Sekali..!!!?

Read More
Showing posts with label Sejarah Muhammad SAW. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Muhammad SAW. Show all posts

Sejarah Hidup Rasulullah Muhammad SAW

October 19, 2011 Comments: (0)
 
 2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (6/6)
 Muhammad Husain Haekal
 
 Itu  juga sebabnya, meskipun bangsa-bangsa yang menganut Islam
 secara silih berganti ditaklukkan, dikuasai dan  dijaJah  oleh
 bangsa-bangsa  lain,  namun keislaman mereka tak pernah goyah,
 keimanan mereka tak pernah  berubah.  Sampai  saat  ini  Eropa
 masih  tetap  menguasai  bangsa-bangsa  beragama Islam. Tetapi
 mereka takkan mampu mengubah iman  bangsa  itu  kepada  Tuhan.
 Sebaliknya,  mereka  yang  dewasa ini mempergunakan pedang dan
 menaklukkan umat Islam, maka nasib merekapun  -  supaya  cocok
 dengan  kata-kata  dalam  Injil itu binasa oleh pedang sebagai
 balasan yang sesuai pula.
 
 Para penguasa dan raja-raja itu oleh Nabi  telah  dikembalikan
 kepada  kekuasaan  mereka masing-masing. Negeri Arab yang pada
 akhir zaman Nabi itu merupakan suatu kesatuan beberapa  bangsa
 Arab yang beragama Islam, tak ada sebuah negara pun yang dalam
 status jajahan tunduk kepada Mekah atau Medinah.  Dengan  iman
 mereka  yang  begitu  teguh semua golongan Arab pada waktu itu
 merasa sama  rata  di  hadapan  Allah.  Mereka  semua  sejalan
 seiring  dalam menghadap pihak yang hendak melanda mereka atau
 hendak  membujuk  mereka  dari  agamanya.  Sampai  pada  waktu
 sesudah  itu,  pada  waktu  Pax  Islamica  atau  liga kesatuan
 bangsa-bangsa Islam mulai goyah, pusat kediaman khalifah tetap
 menjadi  pusat  liga  itu.  Kekuasaan  Khalifah  tidak  pernah
 mendakwakan sebagai pemegang monopoli  masalah-masalah  rohani
 atau  monopoli  dalam  kebudayaan.  Bahkan  semua  bangsa yang
 menganut Islam tidak mengenal adanya  suatu  kekuasaan  rohani
 diluar  kekuasaan  Tuhan.  Semua pusat kawasan Islam waktu itu
 adalah juga pusat pengembangan seni, ilmu dan teknologi.  Yang
 demikian  ini  berjalan  terus, sampai datang waktunya keadaan
 kaum Muslimin terpisah dari Islam. Ajaran  Islam  yang  begitu
 gemilang  sudah  tidak  mereka  kenal  lagi,  persaudaraan  di
 kalangan sesama mukmin sudah mereka lupakan,  seseorang  tidak
 sempurna  imannya  sebelum  ia  mencintai  saudaranya  seperti
 mencintai diri sendiri sudah mereka lupakan pula.  Yang  mulai
 berlaku  kemudian  ialah mementingkan diri sendiri, yang mulai
 memegang  peranan  kemudian  ialah  politik  destruktif.  Maka
 pedang  itulah  yang dijadikan juru selamat. Terjadilah mereka
 yang mempergunakan pedang akan binasa oleh pedang.
 
 Berhubung dengan itu, sejak abad  ke-15  Kristen  Eropa  mulai
 bangkit  dengan  jiwa  baru,  yang  barangkali  akan  ada juga
 gunanya buat dunia kalau  tidak  segera  mengalami  kehancuran
 yang    sudah   menjadi   suatu   keharusan   sebagai   akibat
 pecah-belahnya ajaran Kristen menjadi sekte-sekte. Dalam  pada
 itu,  bersamaan dengan masa kebangkitan itu pula bangsa-bangsa
 Islam yang sudah melupakan Islam itu pun mulai pula dihadapkan
 pada  kekerasan  pedang dan akan tetap dihadapkan pada pedang.
 Dan pedang itu  jugalah  yang  dijadikan  juru  selamat  dalam
 berhadapan  dengan  bangsa-bangsa Islam. Dalam hal ini apabila
 pedang yang berbicara, maka segala pikiran, ilmu  pengetahuan,
 segala  kebaikan,  cinta kasih, iman bahkan kemanusiaan, sudah
 tak ada gunanya lagi.
 
 Dikuasainya dunia dewasa ini oleh pedang, ialah karena  adanya
 krisis  rohani  dan psikologi yang telah melandanya dan sampai
 manusia menderita karenanya. Beberapa negara besar yang  telah
 menguasai  dunia  dengan  pedang selama Perang Dunia Pertama -
 yakni duapuluh tahun yang lalu -  mereka  sudah  yakin  sekali
 akan  kenyataan  ini,  dan  lalu  bermaksud  hendak mengadakan
 perdamaian  di  dunia.  Maka   untuk   mencapai   tujuan   ini
 dibangunlah  Liga  Bangsa-bangsa  dan  tugas  liga  ini  ialah
 seperti dalam firman Tuhan:
 
 "Dan apabila ada dua golongan orang-orang  beriman  berkelahi,
 maka  damaikanlah  keduanya  itu.  Tetapi jika salah satu dari
 keduanya membangkang terhadap yang lain,  maka  lawanlah  yang
 membangkang  itu sampai ia kembali kepada perintah Allah. Bila
 mereka kembali, damaikanlah  keduanya  itu  dengan  cara  yang
 adil. Hendaklah berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang beriman
 itu bersaudara. Demikianlah kedua golongan saudara  kamu  itu.
 Berbaktilah  kamu  kepada  Allah supaya kamu mendapat rahmat."
 (Qur'an, 49: 9-10)

 Akan tetapi jiwa perdamaian itu belum lagi merata  ke  seluruh
 dunia,  karena  dasar  kebudayaan  yang  kini  berkuasa  ialah
 kebudayaan imperialisma, imperialisma yang  didasarkan  kepada
 nasionalisma dengan segala pertentangannya, dengan segala daya
 upayanya,   setiap   negara   yang   kuat   hendak    mengisap
 negara-negara  kecil  lainnya,  maka  sudah menjadi hak setiap
 bangsa yang masih  dijajah,  bahkan  harus  menjadi  kewajiban
 pertama,  berusaha  menghancurkan  belenggu  si  penjajah itu,
 sebab  penjajahan  itulah  bibit  segala   pemberontakan   dan
 peperangan.   Selama  masih  ada  penjajahan,  perdamaian  tak
 mungkin  terwujud,  peperangan  takkan  berkesudahan,  kecuali
 dalam  bentuk  formalitas  saja. Setiap bangsa, satu sama lain
 akan tetap memandang dengan saling  curiga-mencurigai,  dengan
 hati-hati  dan  menunggu-nunggu  kesempatan  hendak mengadakan
 pembunuhan gelap. Dimana mungkin  ada  perdamaian  kalau  jiwa
 semacam  ini  masih  tetap  berakar!  Perdamaian itu baru ada,
 apabila orang dari pelbagai bangsa dapat mengubah diri. Mereka
 harus benar-benar percaya akan arti perdamaian, memegang teguh
 segala ajaran  yang  didasarkan  pada  perdamaian  dan  dengan
 ikhlas  pula  bersepakat  menghadapi  setiap usaha yang hendak
 mengeruhkannya.
 
 Hal ini baru akan terjadi apabila imperialisma itu sudah tidak
 lagi  menjadi  dasar  kebudayaan dunia, apabila semua orang di
 segenap pelosok bumi ini  sudah  menyadari  kewajibannya  yang
 pokok,  yaitu  yang  kuat  membantu  yang  lemah,  yang  besar
 mengasihi yang kecil, yang  pandai  mau  mendidik  yang  belum
 pandai,  dengan  menyebarkan  sinar  panji ilmu pengetahuan ke
 segenap penjuru bumi, dengan hasrat hendak memberi kebahagiaan
 kepada  umat  manusia,  bukan  hendak mempergunakannya sebagai
 alat memeras bangsa-bangsa lain atas  nama  ilmu  pengetahuan,
 atas nama perkembangan teknologi.

 Apabila  dunia semua sudah memegang prinsip ini, apabila orang
 semua sudah merasa, bahwa dunia semua tanah airnya, dan  bahwa
 mereka  semua  bersaudara,  satu  sama  lain  saling mencintai
 seperti mencintai diri sendiri - ketika itu akan ada toleransi
 antara  sesama  manusia, akan ada keakraban; ketika itu mereka
 akan berdialog dengan bahasa yang tidak lagi seperti sekarang.
 Mereka     akan    saling    percaya-mempercayai,    sekalipun
 masing-masing berjauhan  tempat.  Mereka  semua  akan  bekerja
 untuk kebaikan demi Allah. Ketika itulah segala permusuhan dan
 kebencian akan  terhapus.  Dengan  rahmat  Tuhan  kepada  umat
 manusia,  dan  kerelaan  manusia kepada Tuhan, hanya kebenaran
 yang akan ada, hanya perdamaian yang akan merata.
 
 "Orang-orang  yang  beriman  dan   pengikut-pengikut   Yahudi,
 Nasrani dan orang-orang Shabi'un yang percaya kepada Allah dan
 Hari Kemudian serta mengerjakan perbuatan  yang  baik,  mereka
 akan  mendapat  ganjaran dari Tuhan. Mereka tidak perlu takut,
 tidak usah bersedih hati." (Qur'an, 2: 62)
 
 Adakah dalam hal ini toleransi yang lebih luas dari ini! Orang
 yang  beriman  kepada Allah, kepada Hari Kemudian lalu berbuat
 kebaikan, mereka  akan  mendapat  ganjaran  dari  Tuhan.  Pada
 dasarnya  tiada  perbedaan antara orang-orang yang beriman itu
 dengan mereka yang belum mendapat ajakan Islam,  baik  Yahudi,
 Nasrani  atau  Shabi'un10  (atau Sabian) yang belum dipalsukan
 itu.
 
 Tuhan berfirman:
 
 "Dan ada sebagian Ahli Kitab itu yang beriman kepada Allah dan
 kepada   apa  yang  sudah  diturunkan  kepada  kamu  dan  yang
 diturunkan kepada mereka. Mereka sangat berendah  hati  kepada
 Tuhan,  tidak  menjual  ayat-ayat  Allah  dengan  harga murah.
 Mereka itulah yang akan mendapat ganjaran  dari  Tuhan,  sebab
 Allah sangat cepat memperhitungkan." (Qur'an, 3: 199)
 
 Mana  pula semua itu bila dibandingkan dengan kebudayaan Barat
 yang  kini  menguasai  dunia  dengan  segala  chauvinisma  dan
 fanatisma agamanya serta segala peperangan dan kehancuran yang
 timbul sebagai akibat fanatisma itu!
 
 Inilah semangat jiwa yang begitu tinggi memberikan  toleransi,
 semangat   yang  harus  merata  menguasai  dunia  bila  memang
 dikehendaki supaya perdamaian  itu  bertakhta  di  dunia  demi
 kebahagiaan  umat  manusia. Semangat inilah yang telah membuat
 setiap studi tentang sejarah hidup orang yang  telah  menerima
 wahyu Allah dengan firman ini, menjadi suatu studi ilmiah yang
 benar-benar bersih demi ilmu semata. Masalah-masalah psikologi
 dan  spirituil  yang  hendak  mengantarkan  manusia  ke  jalan
 kebudayaan baru yang selama ini  dicarinya,  seharusnya  sudah
 dapat  diungkapkan  oleh  ilmu  pengetahuan.  Dengan mendalami
 studi demikian ini akan banyak sekali hal-hal yang akan  dapat
 diungkapkan,  yang  sejak  sekian  lama  orang  menduga  tidak
 mungkin  akan  dapat   dianalisa   secara   ilmiah.   Ternyata
 pembahasan-pembahasan  ilmu  jiwa  kemudian  dapat menerangkan
 dengan jelas sekali, terutama  bagi  mereka  yang  memang  mau
 memahaminya.

 Seperti  sudah  kita  lihat,  keluhuran  hidup Muhammad adalah
 hidup manusia yang sudah  begitu  tinggi  sejauh  yang  pernah
 dicapai  oleh  umat  manusia.  Hidup yang penuh dengan teladan
 yang luhur dan indah bagi setiap  insan  yang  sudah  mendapat
 bimbingan  hati  nurani,  yang hendak berusaha mencapai kodrat
 manusia yang lebih sempurna dengan jalan  iman  dan  perbuatan
 yang  baik.  Dimana  pulakah ada suatu keagungan dan keluhuran
 dalam hidup seperti yang terdapat  dalam  diri  Muhammad  ini,
 yang  dalam  hidup  sebelum  kerasulannya  sudah  menjadi suri
 teladan pula sebagai lambang kejujuran, lambang harga diri dan
 tempat   kepercayaan   orang.   Demikian   juga  sesudah  masa
 kerasulannya, hidupnya penuh pengorbanan, untuk  Allah,  untuk
 kebenaran,  dan  untuk itu pula Allah telah mengutusnya. Suatu
 pengorbanan  yang  sudah  berkali-kali  menghadapkan  nyawanya
 kepada  maut. Tetapi, bujukan masyarakatnya sendiri pun - yang
 dalam gengsi dan keturunan ia sederajat dengan mereka  -  yang
 baik  dengan  harta,  kedudukan atau dengan godaan-godaan lain
 -mereka tidak dapat merintanginya.
 
 Kehidupan insani yang begitu luhur dan cemerlang itu belum ada
 dalam   kehidupan   manusia   lain  yang  pernah  mencapainya,
 keluhuran yang sudah meliputi segala segi  kehidupan.  Apalagi
 yang  kita  lihat  suatu  kehidupan manusia yang sudah bersatu
 dengan kehidupan  alam  semesta  sejak  dunia  ini  berkembang
 sampai  akhir  zaman,  berhubungan dengan Pencipta alam dengan
 segala karunia dan pengampunanNya. Kalau tidak  karena  adanya
 kesungguhan dan kejujuran Muhammad menyampaikan risalah Tuhan,
 niscaya  kehidupan  yang  kita  lihat  ini  lambat  laun  akan
 menghilangkan apa yang telah diajarkannya itu.
 
 Tetapi,  seribu  tigaratus  limapuluh  tahun ini sudah lampau,
 namun amanat Tuhan  yang  disampaikan  Muhammad,  masih  tetap
 menjadi  saksi  kebenaran dan bimbingan hidup. Untuk itu cukup
 satu saja kiranya kita kemukakan  sebagai  contoh,  yaitu  apa
 yang  diwahyukan  Allah  kepada  Muhammad,  bahwa  dia  adalah
 penutup para nabi dan para rasul. Empat belas abad sudah lalu,
 tiada  seorang  juga sementara itu yang mendakwakan diri bahwa
 dia seorang nabi atau rasul Tuhan lalu  orang  mempercayainya.
 Sementara  dalam  abad-abad itu memang sudah lahir tokoh-tokoh
 di dunia yang sudah mencapai  kebesaran  begitu  tinggi  dalam
 pelbagai bidang kehidupan, namun anugerah sebagai kenabian dan
 kerasulan tidak sampai kepada mereka. Sebelum Muhammad  memang
 sudah  ada  para  nabi  dan  rasul yang datang silih berganti.
 Mereka semua sudah  memberi  peringatan  kepada  masyarakatnya
 masing-masing  bahwa  mereka  itu  sesat, dan diajaknya mereka
 kepada agama yang benar. Namun tiada seorang  diantara  mereka
 itu  yang  menyebutkan,  bahwa  dia diutus kepada seluruh umat
 manusia, atau bahwa dia adalah  penutup  para  nabi  dan  para
 rasul. Sebaliknya Muhammad, ia mengatakan itu, dan sejarah pun
 sepanjang abad membenarkan kata-katanya. Dan itu  bukan  suatu
 cerita  yang  dibuat-buat, tetapi memang hendak memperkuat apa
 yang sudah ada, serta menjelaskan sesuatunya, sebagai petunjuk
 dan rahmat bagi mereka yang beriman.
 
 Tujuan  pokok  yang  saya harapkan ialah, semoga apa yang saya
 maksudkan  dengan  pembahasan  ini  sudah  akan  memadai  juga
 hendaknya,  dan semoga dengan ini saya sudah merambah jalan ke
 arah  adanya  pembahasan-pembahasan  yang  lebih   dalam   dan
 menyeluruh  dalam  bidangnya.  Saya  sudah berusaha kearah itu
 sekuat kemampuan  saya,  dan  Tuhan  juga  kiranya  yang  akan
 memberi keringanan kepada saya.
 
 "Tuhan  tidak  akan  memaksa seseorang di luar kesanggupannya.
 Segala usaha baik yang dikerjakannya adalah untuk dirinya, dan
 yang sebaliknya pun untuk dirinya pula. 'Ya Allah, jangan kami
 dianggap bersalah, bila  kami  lupa  atau  keliru.  Ya  Allah,
 janganlah  Kaupikulkan  kepada  kami beban seperti yang pernah
 Kaupikulkan kepada mereka yang sebelum kami. Ya Allah,  jangan
 hendaknya  Kaupikulkan  kepada  kami beban yang kiranya takkan
 sanggup kami pikul. Beri  maaflah  kami,  ampunilah  kami  dan
 berilah  kami  rahmat.  Engkau jugalah Pelindung kami terhadap
 mereka yang tiada beriman itu." (Qur'an, 2: 286)
 
 Catatan kaki:
 
  1 Paham jabariyah ini mengatakan bahwa Tuhan menciptakan
    manusia dengan perbuatannya, sehingga manusia tak dapat
    berbuat lain daripada yang sudah ditakdirkan Tuhan (lihat
    catatan di bawah). Paham ini sering disamakan dengan
    'fatalisma' dan 'predestination.' Sebaliknya dari paham
    ini ialah qadariyah yang berpendapat bahwa Tuhan hanya
    menciptakan manusia tapi tidak menciptakan perbuatannya.
    Kedua aliran paham ini timbul sekitar abad ke-8 M.
    Menurut Qur'an (2: 177) rukun iman ada lima, yang keenam,
    yaitu jabariyah tidak ada. Paham ini didasarkan kepada
    hadis, yang menurut beberapa ahli sanadnya tidak begitu
    kuat dan dianggap bertentangan dengan Qur'an (A).
    
  2 Yang dimaksud dengan 'papan abadi' tentunya ialah
    'al-lauh'l-mahfuz' yang secara harfiah 'papan tulis yang
    terjaga' dan secara awam kadang diartikan, bahwa segala
    perbuatan nasib manusia sudah ditakdirkan dan tertulis
    lebih dulu dalam 'papan' ini, sehingga manusia sudah tak
    dapat mengelak lagi. Padahal arti 'lauh mafhuz' yang
    sebenarnya ialah Qur'an (85: 21-22) yang terjaga, yang
    takkan pernah dapat dipalsu atau diubah oleh tangan
    manusia (15: 9). Juga tidak sekali-kali dalam arti materi
    terbuat dari batu, kayu dan sebagainya (A).
    
  3 Ikhtiar disini berarti kemauan bebas atau free will,
    atau sengaja, sebaliknya daripada jabariyah atau
    fatalisma (A).
    
  4 Tawakal atau tawakkal berarti mempercayakan diri kepada
    Allah setelah segala usaha dan daya upaya dilakukan, atau
    seperti kata pepatah 'habis akal barulah tawakal' (A).
    
  5 Determinisma ilmiah, 'dunia sebagai kemauan dan
    pikiran' dan 'evolusi kreatif' ialah beberapa mazhab
    filsafat Barat. Yang pertama menurut pendapat kaum
    Positivist, yang kedua menurut Schopenhauer dan yang
    ketiga menurut Bergson. Di sini tempatnya sangat terbatas
    untuk dapat menguraikan semua ini.
    
  6 Sekedar gambaran, jarak matahari dari bumi 93.000.000
    mil jauhnya. Kecepatan tertinggi yang dapat dicatat oleh
    ilmu pengetahuan sampai sekarang ialah cahaya, yakni
    186.000 mil per detik. Ada beberapa bintang yang demikian
    jauh sehingga cahayanya baru sampai ke bumi sesudah lebil
    dari 2.000.000 tahun (A).
    
  7 Al-Islam wan-Nashrania, p. 122 - 125.
 
  8 Stoa ialah suatu ajaran filsafat Yunani dibangun oleh
    Zeno (336? - 264? sebelum Masehi). Kaum Stoa percaya
    bahwa segala kejadian harus diterima dengan tenang dan
    sabar dan bebas dari segala perasaan benci dan suka,
    sedih dan gembira (A).
    
  9 Kaum Parisi ialah suatu sekte agama Yahudi dahulu kala
    yang memisahkan diri, sangat kaku sekali mempertahankan
    undang-undang agama, baik yang tertulis (Taurat), lisan
    ataupun adat kebiasaan. Lawan sekte Saduki (A).
    
 10 Dalam menafsirkan ayat ini At-Tabari menyebutkan,
    bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman itu
    ialah mereka yang percaya kepada Rasulullah;
    pengikut-pengikut Yahudi ialah orang-orang (yang menganut
    agama) Yahudi. Mereka ini disebut Yahudi karena kata-kata
    mereka juga: inna hudna ilaika - 'kami kembali kepadaMu'
    atau 'kami bertaubat.' Orang-orang Nasrani ialah
    pengikut-pengikut Kristus. Dinamakan Nasrani, satu
    pendapat mengatakan nama itu dinisbatkan kepada Nazareth,
    yaitu nama desa di Palestina tempat Isa dilahirkan, yang
    lain berpendapat, ialah karena ucapan Isa yang mengatakan
    'man anshari ila'llah' ('siapakah penolong-penolongku ke
    jalan Allah'), maka penolong-penolong itu diberi sebutan
    'Nashara' (bentuk jamak 'Nashrani); Shabi'un (atau
    Sabian) menurut satu pendapat ialah mereka yang menyembah
    malaikat. Pendapat lain mengatakan, bahwa mereka ini
    percaya kepada: keesaan Tuhan, tetapi tidak mempunyai
    kitab suci, tak ada nabi dan tidak mengamalkan sesuatu
    selain percaya bahwa tak ada tuhan selain Allah. Pendapat
    ketiga mengatakan, bahwa kaum Shabi'un ini orang-orang
    tidak beragama (Lihat juga catatan bawah halaman 33). Ibn
    Jarir menafsirkan ayat dalam firman Tuhan: "Orang yang
    beriman kepada Allah dan Hari Kemudian" ialah orang yang
    percaya akan hari kebangkitan sesudah mati pada hari
    kiamat, orang berbuat kebaikan dan taat kepada perintah
    Allah, mereka itulah yang akan mendapat ganjaran dari
    Tuhan, yakni mereka akan mendapat pahala dari Tuhan
    karena perbuatan-perbuatan yang baik. Sedang firman
    "mereka tidak perlu takut, tidak usah berduka cita,"
    ialah bahwa mereka tidak perlu takut dalam menghadapi
    hari kebangkitan, juga mereka tidak usah bersedih hati
    akan kehidupan dunia yang ditinggalkannya dalam
    menghadapi pahala dan kenikmatan abadi dari Tuhan. Dalam
    hal ini selanjutnya Ibn Jarir mengatakan, bahwa ayat ini
    ditujukan kepada orang Nasrani yang telah mengajak Salman
    al-Farisi menganut agama mereka. Salah seorang dari
    mereka juga mengatakan kepada Salman bahwa kelak akan
    muncul nabi di negeri Arab dengan menunjukkan sekali akan
    tanda-tanda kenabiannya itu. Dinasehatinya bahwa kalau
    nanti sampai ia mengalami supaya dia pun menjadi
    pengikutnya. Setelah Salman masuk Islam dan hal ini
    disampaikannya kepada Nabi, Nabi berkata: "Salman, mereka
    itu penghuni neraka." Hal ini sangat berkesan sekali pada
    Salman. Maka turunlah ayat ini "Orang-orang yang berirnan
    dari pengikut-pengikut Yahudi," dan seterusnya. Ada lagi
    yang berpendapat bahwa Tuhan telah menghapus ayat
    tersebut dengan firmanNya: "Barangsiapa menerima agama
    selain Islam ia tidak akan diterima." Tetapi Ibn Jarir
    menambahkan: "Apa yang kita sebutkan menurut penafsiran
    yang pertama itu lebih mirip dengan keadaan wahyu menurut
    lahirnya saja, sebab Tuhan tidak mengkhususkan ganjaran
    itu atas perbuatan baik, dengan yang sebagian beriman dan
    yang lain tidak. Predikat dengan kata-kata 'Orang yang
    beriman kepada Allah dan hari kemudian' meliputi semua
    yang disebutkan dalam ayat pertama itu. Barangkali dapat
    juga disebutkan - untuk memperkuat pendapat Ibn Jarir
    mengenai ulasan ayat "Barangsiapa menerima agama selain
    Islam, ia tidak akan diterima," - bahwa itu ditujukan
    kepada orang-orang Islam yang memilih agama lain setelah
    mereka dilahirkan secara Islam atau sesudah beriman
    kepada ajaran Islam. Sebaliknya yang dilahirkan tidak
    sebagai Muslim, ajakan dan ajaran Islam tidak sampai
    kepadanya seperti apa adanya, maka halnya sama dengan
    mereka yang sebelum datangnya kerasulan Muhammad atau
    yang semasa dengan itu tapi belum mengetahui tentang
    ajaran itu dengan sebenarnya. [Lihat tafsir at-Tabarr
    (Jami'l Bayan) Jilid Satu hal. 253 - 257].
 
 ---------------------------------------------
 S E J A R A H    H I D U P    M U H A M M A D
 
 oleh MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL
 diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah
 
 Penerbit PUSTAKA JAYA
 Jln. Kramat II, No. 31 A, Jakarta Pusat
 Cetakan Kelima, 1980
 
 Seri PUSTAKA ISLAM No.1

Sejarah Hidup Rasulullah Muhammad SAW

Comments: (0)
 
2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (5/6)
 Muhammad Husain Haekal
 
 Dalam  hidup  ini  rasanya  tak ada yang lebih baik merangsang
 kita dalam bekerja dan berusaha seperti dalam  mencari  nafkah
 dan  harta.  Demi  harta  sebagian  besar  orang  berusaha dan
 berjuang, yang kadang sampai diluar kemampuannya. Dalam  dunia
 kita  sekarang  ini,  sekali  lihat  saja  orang  sudah  dapat
 memperoleh kesan apa yang sedang bergolak dalam  dunia  ini  -
 perjuangan  dan kesulitan, perang dan damai, pemberontakan dan
 kekacauan - demi harta. Demi  harta  inilah  kerajaan-kerajaan
 terbalik  menjadi  republik, untuk harta ini pertumpahan darah
 terjadi, nyawa manusia  melayang.  Juga  anak-anak  keturunan!
 Kesulitan  yang  bagaimanakah  yang tidak akan kita pikul demi
 anak-anak buah hati kita! Kepahitan yang bagaimana  pula  yang
 takkan  terasa  manis  kalau  memang  untuk kesenangan mereka,
 untuk menjamin kemakmuran hidup dan kemuliaan  mereka!  Segala
 kesulitan  untuk  mencapai  kebahagiaan mereka itu jadi mudah.
 Bahkan, demi harta dan anak-anak keturunannya itu,  ada  orang
 yang  menganggap  segala  yang mustahil itu tiada berarti. Ada
 yang sampai berlebih-lebihan sekali  dalam  hal  ini  sehingga
 untuk   itu   ia  mengorbankan  segala  kesenangannya,  bahkan
 hidupnya.
 
 Memang demikianlah, harta dan anak-anak keturunan  itu  memang
 hiasan  (bentuk  luar)  kehidupan dunia. Tetapi disamping inti
 kehidupan yang sebenarnya bentuk luar itu bukan apa-apa. Orang
 yang  mengorbankan  inti  demi hiasan lahir, sama dengan orang
 yang berpikir sempit dan bodoh  saja:  sama  dengan  perempuan
 yang  tidak  memandang  penting  kesehatannya sendiri asal dia
 tampak cantik untuk sementara waktu; sama dengan  pemuda  yang
 sudah  lupa  daratan,  yang mau mengorbankan pikiran dan harga
 dirinya ditengah-tengah ejekan kawan-kawannya bila ia  mengira
 bahwa   dirinya   adalah   pemimpin  mereka  sebab  dia  sudah
 menghambur-hamburkan harta untuk mereka itu; atau sama seperti
 mereka,  orang-orang  yang  begitu  bodoh,  yang  tertipu oleh
 kenyataan dibalik kebenaran, oleh hari ini dibalik hari  esok.
 Mereka  yang  mengejar  harta  dan anak-anak keturunan sebagai
 hiasan kehidupan dunia dan melupakan  yang  lain,  mereka  ini
 tidak  kurang  pula  bodohnya.  Harta  dan anak-anak keturunan
 suatu hiasan. Sedang inti kehidupan ialah segala pekerjaan dan
 perbuatan  baik yang kekal. Dan untuk perbuatan-perbuatan baik
 inilah orang harus mencurahkan tenaga dan perjuangannya  lebih
 dari  pada  untuk  hiasan (bentuk luar) kehidupan dunia, harta
 dan anak-anak keturunannya.
 
 Kita sudah melihat betapa  luhurnya  tujuan  yang  digambarkan
 ayat  Qur'an  Suci  ini.  Kalau  kita sudah mencurahkan segala
 tenaga dan darah kita demi hiasan kehidupan  dunia  ini,  maka
 kita  juga  harus  mencurahkan  jiwa  dan hati kita untuk inti
 daripada kehidupan itu, bentuk harus tunduk kepada inti.  Oleh
 karena  itu  segala  hidup  kita,  harta  kita  dan  anak-anak
 keturunan kita harus ditujukan kepada tujuan ini, kepada  inti
 daripada  perbuatan-perbuatan  baik  yang kekal itu yang lebih
 besar pahalanya dalam pandangan Tuhan serta harapan yang lebih
 baik pula.

 Mengenai  logika  yang  begitu  sehat  dan jelas ini bagaimana
 dalam pemikiran Muslimin dapat berubah menjadi  bermacam-macam
 kepercayaan  yang  sama  sekali  tidak sesuai? Pada pembahasan
 yang pertama buku ini sepintas lalu  ada  juga  kita  singgung
 tatkala  kita sebutkan tentang keadaan yang sudah berubah pada
 umat Islam itu.
 
 Karena  adanya  penaklukan-penaklukan  yang  pernah  menguasai
 imperium  Islam  secara berturut-turut sejak berakhirnya zaman
 dinasti Abbasiah - seperti yang sudah kita  singgung  sepintas
 lalu  dalam  pengantar  cetakan  kedua  - cara musyawarah yang
 berlaku pada permulaan sejarah  Islam  telah  berubah  menjadi
 kerajaan yang sewenang-wenang pada zaman dinasti Umayyah, lalu
 menjadi hak suci pada masa Abbasiah kedua.

 Baiklah  sekarang  kita  ikuti  keterangan   almarhum   Syaikh
 Muhammad   Abduh   dengan   agak   terperinci  dalam  Al-Islam
 wan-Nashrania sebagai berikut:
 
 "Islam pada mulanya agama yang  dianut  orang  Arab.  Kemudian
 setelah  berhubungan  dengan  ilmu  pengetahuan  yang  tadinya
 bercorak Yunani ilmu itu pun lalu bercorak Arab pula. Kemudian
 ada  seorang  khalifah  yang  salah dalam menjalankan politik.
 Keluasan Islam digunakannya  untuk  apa  yang  dikiranya  akan
 membawa  keuntungan  untuk  kepentingannya  -  dikiranya bahwa
 tentara yang terdiri dari orang-orang Arab  itu  mungkin  saja
 akan  jadi  pendukung  seorang  khalifah  golongan  Ali, sebab
 golongan ini dekat sekali pertaliannya  dengan  keluarga  Nabi
 s.a.w. Oleh karena itu ia mau mempergunakan tentara dari luar,
 yang terdiri dari orang-orang Turki, Dailam dan lain-lain yang
 dikiranya  pula  bahwa dengan kekuasaannya itu mereka ini akan
 dapat diperhamba,  dapat  dipergunakan  untuk  kepentingannya.
 Suasana tidak akan membantu adanya pihak yang akan memberontak
 kepadanya  atau  menuntut   kedudukannya   sebagai   penguasa,
 meskipun  keluasan  hukum  Islam akan membenarkan ia melakukan
 itu. Sejak itulah Islam jadi bercorak asing.
 
 "Ada seorang khalifah  Banu  Abbas  -  yang  karena  mengingat
 kepentingannya  sendiri serta anak cucunya - ia ingin sebagian
 besar tentaranya itu diangkat dari orang-orang asing, demikian
 juga  pembesar-pembesarnya.  Suatu tindakan yang buruk sekali,
 baik terhadap bangsanya atau pun terhadap agama. Tetapi  tidak
 lama  kemudian  pembesar-pembesar  militer  ini pun telah pula
 dapat mengalahkan para khalifah itu. Dengan kekuasaan yang ada
 itu  mereka  telah  dapat  bertindak sewenang-wenang. Sekarang
 kekuasaan  negara  berada  ditangan   mereka,   dengan   tiada
 persiapan pikiran seperti yang diajarkan Islam dan dengan hati
 yang sudah diisi oleh  pendidikan  agama.  Bahkan  sebaliknya,
 mereka  datang  menerima Islam dalam keadaan biadab dan bodoh,
 dengan membawa segala macam kekejaman. Tubuh mereka mengenakan
 pakaian  Islam,  tapi  ajarannya  belum  sampai menembusi hati
 mereka. Masih banyak diantara mereka itu yang membawa  berhala
 untuk   disembah   dengan   diam-diam.   Kalau  pun  ada  yang
 menjalankan salat bersama-sama,  itu  hanya  untuk  memperkuat
 kekuasaannya.
 
 "Kemudian  datang lagi yang lain melanda Islam, seperti bangsa
 Tatar dan yang  lain  misalnya,  malah  persoalan  agama  juga
 dibawah  kekuasaannya.  Buat  mereka  musuh  yang paling besar
 ialah ilmu pengetahuan. Orang pun sudah mengenal siapa mereka,
 sudah  mengetahui sejarah mereka yang buruk itu. Mereka sangat
 memusuhi ilmu, juga  memusuhi  yang  menjadi  pelindung  ilmu,
 yakni  Islam.  Segala yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan
 tidak pernah mendapat perhatian mereka, bantuan untuk itu  pun
 dihentikan.  Tidak  sedikit  dari  kaki tangan mereka itu yang
 turut menyusup  kedalam  jiwa  orang  yang  masih  awam  dalam
 agamanya.  Mereka menempatkan diri ke tengah-tengah orang yang
 masih hijau dalam agama  itu,  sebagai  orang  yang  taat  dan
 pelindung agama. Mereka menganggap agama masih belum sempurna,
 perlu disempurnakan, atau sedang sakit,  perlu  diobati,  atau
 juga  sedang  miring, perlu ditopang, sudah hampir roboh, jadi
 perlu dibangun kembali.
 
 "Dengan  mengingat  masa  lampau  mereka  yang   masih   dalam
 kemegahan  paganisma,  adat-istiadat golongan-golongan Nasrani
 yang terdapat di  sekitarnya,  mereka  pun  hendak  menerapkan
 semua itu ke dalam Islam - suatu hal yang diluar tanggungjawab
 Islam. Tetapi dalam meyakinkan  orang-orang  awam  bahwa  yang
 demikian  ini  demi  kebesaran  syiar  agama, mereka berhasil.
 Rakyat jelata memang alat penguasa  dan  senjata  kaum  tiran.
 Mereka    telah    menciptakan    bermacam-macam   pesta   dan
 upacara-upacara keagamaan. Merekalah  yang  membuat  peraturan
 kepada  kita  tentang adanya pemujaan kepada para wali, kepada
 ulama dan yang sebangsanya. Mereka telah  memecah  belah  umat
 Islam,  dan menjerumuskan orang kedalam kesesatan. Mereka juga
 yang  menentukan,  bahwa  kita  yang  datang  kemudian   harus
 mengikuti  apa  yang dikatakan oleh orang dahulu. Hal ini oleh
 mereka telah dijadikannya  pula  suatu  akidah,  yang  membuat
 orang jadi berhenti berpikir, membuat pikiran jadi beku.
 
 "Lalu    kaki   tangan   mereka   menyebarkan   cerita-cerita,
 berita-berita dan bermacam-macam pandangan ke seluruh  pelosok
 kawasan  Islam  -  yang  akan membuat orang awam jadi puas dan
 yakin - bahwa mereka tidak berhak mencampuri  soal-soal  umum.
 Segala yang berhubungan dengan soal-soal masyarakat dan negara
 adalah  menjadi  wewenang  para  penguasa.   Barangsiapa   mau
 mencampuri  soal  semacam  ini  di  luar  mereka,  berarti  ia
 memasuki persoalan yang bukan bidangnya. Apabila sampai timbul
 kerusakan-kerusakan dan suasana yang tidak menyenangkan, semua
 itu bukan karena  perbuatan  para  penguasa,  melainkan  suatu
 kenyataan  seperti  yang  disebutkan dalam hadis-hadis sebagai
 ciri-ciri akhir zaman. Orang tidak  perlu  menghindarkan  diri
 baik  untuk masa sekarang mau pun untuk masa yang akan datang.
 Maka lebih aman apabila hal  ini  kita  serahkan  saja  kepada
 Tuhan.   Kewajiban   seorang  Muslim  hanyalah  mengurus  diri
 sendiri.
 
 "Dalam hal ini  mereka  menemukan  pula  beberapa  hadis  yang
 secara  harfiah  membantu  sekali maksud mereka. Demikian juga
 adanya hadis-hadis palsu dan  lemah  dapat  memperkuat  tujuan
 mereka  menyebarkan  pelbagai  ilusi semacam itu. Barisan yang
 menyesatkan  semacam  itu  sudah  tersebar  luas  di  kalangan
 Muslimin  sendiri,  dengan  mendapat bantuan di mana-mana dari
 pembesar-pembesar  yang  memang  berbahaya  itu.   Kepercayaan
 tentang   takdir   mereka   pergunakan  sebagai  alat  pemadam
 semangat, sebagai belenggu yang akan dipasang di tangan  orang
 yang  mau  berusaha.  Faktor  yang  paling kuat mendorong hati
 orang menerima dongengan-dongengan semacam ini  ialah  tingkat
 pengetahuan  yang  masih  bersahaja,  kesadaran  beragama yang
 lemah dan mudah terbawa nafsu. Ketiga faktor ini bila  bertemu
 berarti  suatu  kehancuran.  Kebenaran  sudah  tertimbun  oleh
 kepalsuan  yang  begitu  tebal.  Kepercayaan-kepercayaan  yang
 bertentangan  dengan  ajaran  pokok  agama, dan mengaburkannya
 sekaligus - seperti kata orang - sudah sangat melekat ke dalam
 hati.
 
 "Politik  demikian  ini  adalah  politik  tirani  dan egoistis
 sifatnya. Politik inilah yang menyebarkan hal-hal  yang  bukan
 dan  agama dimasukkan kedalam agama. Politik inilah yang telah
 merampas harapan dari si Muslim yang tadinya hendak  menembusi
 lapisan langit; terpaku ia dalam hidup putus asa, hidup dengan
 makhluk-makhluk hewan yang membisu  ...  Sebagian  besar  yang
 kita saksikan sekarang, yang dinamakan Islam, sebenarnya bukan
 Islam. Hanya bentuknya  saja  yang  masih  dipelihara  sebagai
 amalan-amalan  Islam  - sembahyang, puasa, naik haji, ditambah
 sedikit hafalan kata-kata-yang artinya sudah dibelokkan  pula.
 Ajaran-ajaran  bid'ah  dan dongengan-dongengan yang dimasukkan
 kedalam agama dan dianggap sebagai agama, telah membuat  orang
 jadi beku dalam berpikir, seperti sudah saya sebutkan tadi.
 
 Semoga  Tuhan  menjauhkan  semua  kita  dari  mereka  dan dari
 kebohongan yang mereka buat-buat atas  nama  Tuhan  dan  agama
 itu!  Segala  cacat  yang  sekarang  dialamatkan  kepada  kaum
 Muslimin sebenarnya bukan dari Islam, tetapi sesuatu yang lain
 yang mereka namakan Islam."7

 Keadaan yang digambarkan oleh Syaikh Muhammad Abduh ini memang
 merupakan beberapa pendirian yang  bertentangan  sekali,  yang
 oleh  mereka  disiar-siarkan dan disebarkan begitu luas dengan
 mengatakan bahwa itu ajaran  Islam,  itu  perintah  Tuhan  dan
 Rasul.  Dan  pelbagai  macam  pendirian inilah lahirnya mazhab
 jabariah,  yang  oleh  mereka  yang  datang   kemudian   telah
 digambarkan  begitu rupa, berlainan sekali dengan apa yang ada
 dalam Qur'an. Lukisan Qur'an mengenai hal ini sudah kita lihat
 di   atas.  Sebaliknya  yang  datang  kemudian,  mereka  hanya
 menyuruh  orang  duduk-duduk   dan   menyerah   saja.   dengan
 mengatakan  bahwa  lapangan  hidup  ini  bukan harus dilakukan
 dengan usaha  dan  rencana,  tetapi  memang  sudah  tergantung
 kepada  rejeki  dan  takdir  juga, bukan kepada jasa pekerjaan
 seseorang. Ini adalah jabariah yang salah  sama  sekali,  yang
 telah  memberi  peluang  kepada  beberapa orang di Barat untuk
 menuduh  Islam  dengan  tidak  pada   tempatnya.   Berdasarkan
 pendirian  inilah  timbul  mazhab  merendamkan arti materi dan
 tidak mau campur  tangan  dalam  persoalan  semacam  ini.  Ini
 adalah  mazhab  kaum  Stoa8  di Yunani, juga pada suatu ketika
 pernah  tersebar  di  kalangan   segolongan   kaum   Muslimin,
 kendatipun ini memang bertentangan dengan firman Tuhan:
 
 "Dan  jangan  kau  lupakan nasibmu dalam kehidupan dunia ini."
 (Qur'an 28 - 77)
 
 Sungguhpun demikian aliran ini mempunyai literatur yang  cukup
 luas  pada  masa  Banu  Abbas dan sesudahnya. Yang dikehendaki
 oleh Qur'an ialah jalan tengah.  Ia  tidak  membenarkan  orang
 hidup serba menahan diri, juga tidak membenarkan ibahiyah atau
 hidup serba boleh seperti diduga oleh Irving, bahwa cara hidup
 demikian   itu   telah  menghanyutkan  kaum  Muslimin  kedalam
 kemewahan dan  melupakan  perjuangannya,  serta  menjerumuskan
 umat Islam ke dalam keadaan mereka seperti sekarang ini.

 Penulis   Amerika   ini   mengatakan,   bahwa  ajaran  Kristen
 mengajarkan kesucian  dan  kasih  sayang  sebaliknya  daripada
 lslam,  seperti  yang  dituduhkannya.  Bukan  maksud saya akan
 membanding-bandingkan Islam  dengan  Kristen  dalam  hal  ini,
 sebab  keduanya  memang  sejalan,  dan tidak berbeda. Biasanya
 membanding-bandingkan demikian itu hanya  akan  berakhir  pada
 perdebatan  dan  pertentangan  yang  tidak  akan menguntungkan
 Kristen ataupun Islam. Akan tetapi apa yang saya perhatikan  -
 dan  inilah  yang  ingin  saya  tekankan  - ialah bahwa antara
 sejarah hidup Isa  'a.s.  dengan  ajaran  Stoaisma  dan  hidup
 menahan  diri  secara berlebih-lebihan yang dihubungkan kepada
 ajaran Kristen, terdapat perbedaan yang jelas sekali.  Almasih
 bukan  seorang  penganut  ajaran  stoa. Bahkan mujizatnya yang
 mula-mula dan  utama,  ialah  ketika  ia  mengubah  air  tawar
 menjadi   minuman  anggur  dalam  pesta  perkawinan  di  Kana,
 Galilea, yang juga dia diundang, dan dia  ingin  jangan  orang
 kekurangan  minuman  keras  itu setelah habis dari persediaan.
 Juga dia tidak menolak undangan kaum Parisi9  yang  mengadakan
 pesta  makan yang mewah dan dia tidak keberatan orang mengecap
 kenikmatan yang diberikan Tuhan.
 
 Sedang sejarah hidup Muhammad dalam hal ini  lebih  menekankan
 pada   keseimbangan  jalan  tengah.  Memang  benar  bahwa  Isa
 menganjurkan  orang-orang  kaya  bermurah  hati  kepada  fakir
 miskin  dan  mencintai  mereka.  Tetapi  sepanjang yang pernah
 dikenal umat manusia dalam hal ini,  Qur'an  lebih-lebih  lagi
 menekankan.  Pembaca  tentu  sudah melihat sendiri ketika kita
 bicara tentang zakat dan sedekah, sehingga  tidak  perlu  lagi
 kiranya  diulang.  Dan  cukup  kalau  terhadap Irving dan yang
 semacamnya itu kita  jawab,  bahwa  Qur'an  mengajarkan  jalan
 tengah dalam segala hal.
 
 Tinggal  lagi  kata-kata  terakhir  yang diuraikan Irving itu,
 yaitu  kata-kata  yang  oleh  pihak  Barat  dimaksudkan  untuk
 mencemarkan kita tapi sebenarnya itu merupakan kecemaran Barat
 sendiri,  merupakan  arang  di  kening  dan   aib   di   wajah
 kebudayaannya sendiri. Irving berkata: "Adanya bulan sabit ini
 sampai sekarang di  Eropa  -  yang  pada  suatu  waktu  pernah
 mencapai  kekuatan  yang luarbiasa - hanyalah karena perbuatan
 negara-negara Kristen yang besar-besar; atau lebih tepat lagi:
 karena  persaingan mereka sendiri. Bertahannya bulan sabit itu
 barangkali untuk menjadi bukti yang baru, bahwa:  "barangsiapa
 menggunakan pedang akan binasa oleh pedang."

 "Barangsiapa  menggunakan pedang akan binasa oleh pedang." Ini
 sebuah ayat dalam Injil (Perjanjian  Baru)  yang  oleh  Irving
 dialamatkan  kepada  Islam,  atas  nama Kristen. Sungguh aneh!
 Barangkali Irving masih dapat  dimaafkan  mengingat  apa  yang
 dikatakannya  itu  sudah  seabad  yang  lalu.  Pada  waktu itu
 penjajahan Barat,  menurut  istilah  kita  -  atau  penjajahan
 Kristen   menurut  istilahnya  -  keserakahan  dan  penggunaan
 pedangnya  belum  separah  seperti  sekarang.  Tetapi  Marshal
 Allenby, yang dalam tahun 1918 menaklukkan Yerusalem atas nama
 Sekutu, ia berkata seperti kata-kata itu juga sambil berteriak
 di Kuil Sulaiman: "Sekarang Perang Salib sudah selesai!"
 
 Atau  seperti  dikatakan  oleh Dr. Peterson Smith dalam sebuah
 bukunya tentang kehidupan Almasih, bahwa "Penaklukan Yerusalem
 itu  adalah  merupakan Perang Salib kedelapan yang dilancarkan
 pihak Kristen untuk mencapai maksudnya." Bisa jadi benar  juga
 bahwa  penaklukan itu berhasil bukan atas usaha pihak Kristen,
 tapi atas usaha orang-orang Yahudi  yang  telah  mempergunakan
 mereka  untuk  menjadikan  impian  Israel  dahulu  kala  suatu
 kenyataan, lalu menjadikan Tanah yang dijanjikan  itu  sebagai
 daerah nasional bangsa Yahudi.

 "Barangsiapa  menggunakan  pedang  akan  binasa  oleh pedang."
 Kalau kata-kata Injil  ini  dapat  diterapkan  kepada  sesuatu
 golongan  maka  golongan  yang paling tepat menerimanya dewasa
 ini ialah Eropa yang  menganut  Kristen  itulah.  Islam  tidak
 pernah  mempergunakan  pedang  dan  oleh  karenanya tidak akan
 binasa oleh pedang. Sebaliknya Eropa  yang  menganut  Kristen,
 pada  zaman  belakangan  ini  telah  menggunakan  pedang untuk
 mengejar kebebasan hidup yang berlebih-lebihan  dan  kemewahan
 yang  oleh  Irving  dipalsukan  alamatnya,  kepada  Islam  dan
 Muslimin. Dewasa ini Eropa yang  menganut  Kristen  itu  telah
 mengambil  alih  peranan  yang dulu dipegang oleh Mongolia dan
 Tatar, tatkala mereka yang secara lahir menggunakan baju Islam
 menaklukkan  beberapa  kerajaan  tanpa  membawa  ajaran-ajaran
 Islam.  Merekapun  mengalami  kehancuran   bersama-sama   kaum
 Muslimin.  Inilah  keruntuhan yang telah menimpa bangsa-bangsa
 Islam. Tetapi Eropa yang menganut  Kristen  dewasa  ini  tidak
 lebih  baik  dari bangsa-bangsa Tatar dan Mongolia itu. Begitu
 menaklukkan bangsa-bangsa Islam, segera  pula  mereka  sendiri
 menganut  Islam,  melihat kebesaran dan kesederhanaan yang ada
 dalam ajaran Islam. Sebaliknya Eropa, ia menyerang  bukan  mau
 menyiarkan  sesuatu  kepercayaan  atau  kebudayaan,  tapi  mau
 menjajah,  mau   menjadikan   agama   Kristen   sebagai   alat
 penjajahan.
 
 Oleh  karena  itu  propaganda  misi Kristen Eropa tidak pernah
 berhasil, sebab tujuannya memang sudah tidak ikhlas.  Terutama
 di  kalangan bangsa-bangsa beragama Islam propaganda ini tidak
 pernah  berhasil  dan  tidak  akan  berhasil.  Kebesaran   dan
 kesederhanaan  Islam,  demikian  juga  ajarannya  yang memberi
 tempat kepada pikiran logis dan ilmu,  tidak  memberi  harapan
 kepada  propaganda  agama  apa pun untuk berhasil mempengaruhi
 pemeluk-pemeluk Islam
 
 "Barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang."  Ini
 benar. Meskipun ini memang sesuai dengan keadaan Muslimin yang
 datang kemudian, yang berperang  hendak  menaklukkan  beberapa
 kerajaan  dan  untuk menjajahnya, bukan untuk membela diri dan
 membela keyakinannya, tapi buat masa sekarang  hal  ini  lebih
 sesuai  lagi dengan Barat yang berperang dan menaklukkan untuk
 merendahkan dan menjajah bangsa-bangsa lain.

 Kaum  Muslimin  yang  mula-mula  pada  zaman  Nabi  dan   para
 penggantinya  dan  yang  datang  sesudah itu, mereka berperang
 bukan  untuk  menaklukkan  atau  menjajah,   melainkan   untuk
 mempertahankan  keyakinan  mereka  tatkala mereka diancam oleh
 Quraisy dan oleh orang-orang Arab, kemudian diancam pula  oleh
 Rumawi  dan  oleh  Persia.  Dalam  peperangan ini mereka tidak
 memaksa orang harus menganut  Islam,  karena  memang  tak  ada
 paksaan  dalam  agama. Juga dengan peperangan itu mereka tidak
 bermaksud hendak menjajah bangsa lain. Beberapa  kerajaan  dan
 amirat  oleh  Nabi  dibiarkan  dalam  kerajaan  dan  amiratnya
 masing-masing  Tujuannya   hanyalah   supaya   ada   kebebasan
 mempropagandakan agama. Oleh karena akidah Islam memang begitu
 kuat dan jelas  mempertahankan  kebenaran  yang  diajarkannya,
 jelas  sekali bahwa tidak ada keistimewaan orang Arab terhadap
 bangsa lain yang non-Arab, kecuali  dengan  takwa,  dan  bahwa
 kekuasaan  tertinggi  itu  hanya  ada  pada  Allah, maka cepat
 sekalilah ajaran ini tersebar ke segenap penjuru bumi, seperti
 halnya dengan setiap kebenaran yang sungguh-sungguh jujur akan
 cepat pula tersebar.
 
 Akan tetapi setelah kemudian ada pihak-pihak yang masuk  Islam
 dan   mereka   ini   terjun   kedalam  kancah  peperangan  dan
 menaklukkan dengan menggunakan  pedang,  mereka  pun  kemudian
 dihancurkan  oleh  pedang pula. Tetapi Islam tidak sekali-kali
 mempergunakan pedang dan tidak akan binasa oleh pedang.  Islam
 tidak  pernah  mempergunakan  pedang.  Malah  ia dapat memikat
 pikiran dan hati nurani manusia hanya dengan kekuatan yang ada
 di dalam Islam itu sendiri.
 
                                     (bersambung ke bagian 6/6)
 
 

Sejarah Hidup Rasulullah Muhammad SAW

Comments: (0)
2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (4/6)
 Muhammad Husain Haekal
 
 Tetapi  bukanlah  disini tempatnya kita mengadakan pembahasan.
 Kalau pun kita menjumpai adanya teori evolusi, dan yang  sudah
 menjadi  salah satu pula undang-undang Tuhan dalam alam, namun
 pembicaraan dalam  hal  ini  masih  akan  luas  sekali.  Tuhan
 menciptakan  Adam  dan  Hawa lalu berkata kepada para malaikat
 supaya bersujud kepada Adam. Selain Iblis mereka pun bersujud,
 Iblis  masih  tetap  menolak  meskipun Tuhan telah mengajarkan
 semua nama-nama kepada Adam, seperti dalam firman Allah:
 
 "Hai Adam! Tinggallah engkau dengan isterimu di  dalam  surga!
 Dan  makanlah  mana  yang  kamu sukai, tetapi pohon ini jangan
 kamu dekati, sebab nanti kamu akan menjadi  orang  yang  salah
 karenanya.  Lalu datang setan membisikkan pikiran jahat kepada
 mereka, supaya aurat mereka yang tertutup  dibuka.  Dan  setan
 pun  berkata: 'Tuhan melarang mendekati pohon ini hanya supaya
 kamu berdua jangan menjadi malaikat atau  menjadi  orang-orang
 yang kekal.' Dan dia bersumpah kepada mereka: 'Sungguh aku ini
 penasehat kamu.' Lalu dengan tipu daya  itu  setan  pun  dapat
 menjatuhkan  mereka  berdua;  setelah  keduanya merasakan buah
 pohon itu, tampaklah bagi mereka berdua itu aurat mereka, lalu
 mereka  pun  menutupi diri dengan daun pohon surga. Oleh Tuhan
 kedua mereka dipanggilNya: 'Bukankah Aku telah  melarang  kamu
 berdua dari pohon itu dan sudah Kukatakan kepadamu bahwa setan
 itu musuh yang jelas sekali buat kamu.'  Keduanya  mengatakan:
 'Wahai  Tuhan  kami.  Kami telah menganiaya diri kami sendiri.
 Kalau tidak karena pengampunan dan  rahmat  yang  akan  Engkau
 limpahkan  kepada  kami,  niscaya kami akan menjadi orang yang
 rugi.'  Tuhan  berkata:  'Turunlah  kamu.  Kamu  akan   saling
 bermusuhan.  Kamu  akan tinggal dan hidup di dunia sampai pada
 waktu tertentu!' Tuhan berkata: 'Di tempat itu kamu hidup,  di
 sana  kamu akan mati dan dari sana pula kamu akan dibangkitkan
 kembali. Wahai  anak  Adam!  Kepadamu  Kami  telah  menurunkan
 pakaian  penutup  auratmu,  dan pakaian perhiasan. Akan tetapi
 pakaian takwa itu lebih  baik.  Itulah  tanda-tanda  kebesaran
 Tuhan,  supaya kamu ingat. Wahai anak Adam! Jangan sekali-kali
 kamu dapat ditipu oleh setan seperti yang  dilakukannya  dalam
 mengeluarkan  ibu  bapamu  dari surga. Ia menanggalkan pakaian
 mereka  berdua  untuk  saling  memperlihatkan  aurat;  ia  dan
 pengikut-pengikutnya  dapat  melihat kamu dari suatu arah yang
 tak dapat kamu lihat mereka. Kami telah menjadikan  setan  itu
 pemuka-pemuka mereka yang tiada beriman." (Qur'an, 7: 19-27)
 
 Adam  dan  Hawa turun dari surga, sebahagian keturunannya satu
 sama lain akan saling bermusuhan. Mereka turun dengan kekuatan
 yang  diberikan Tuhan untuk memperjuangkan hidup, dan demikian
 seterusnya generasi demi generasi.

 Gejala pertama kehidupan manusia di dunia ini ialah  kekerasan
 dan fanatisma, seperti dalam firman Allah:
 
 "Ceritakanlah  kepada  mereka  dengan  sebenarnya  kisah kedua
 putera Adam itu ketika keduanya mempersembahkan  kurban.  Dari
 yang  seorang  diterima,  dari  yang  lain tidak. Yang seorang
 berkata: 'Akan kubunuh engkau.'  Yang  lain  menjawab:  'Tuhan
 hanya menerimanya dari orang-orang yang bertakwa. Kalau engkau
 menggerakkan  tangan  hendak  membunuhku,   aku   tidak   akan
 menggerakkan  tanganku  untuk  membunuhmu.  Sungguh  aku takut
 kepada  Allah,  Tuhan  semesta  alam.  Akan  kubiarkan  engkau
 memikul  dosaku  dan dosamu sendiri, supaya engkau menjadi isi
 neraka.  Dan  itulah  balasan   orang-orang   yang   melakukan
 kejahatan.'   Kemudian   kehendak   nafsunya   akan   membunuh
 saudaranya itu diturutinya, maka dibunuhnyalah ia.  Dia  sudah
 menjadi  orang  yang  rugi. Kemudian Tuhan pun mengirim seekor
 burung gagak menggali tanah  dengan  memperlihatkan  kepadanya
 bagaimana   caranya   ia  menguburkan  mayat  saudaranya  itu.
 Katanya: 'Aduhai! Kenapa aku tidak seperti burung  gagak  ini,
 aku  menguburkan  mayat  saudaraku.'  Itu sebabnya, ia menjadi
 orang  menyesal  sekali.  Oleh  karena  itulah,   Kami   telah
 menetapkan kepada anak-anak Israil, bahwa barangsiapa membunuh
 seorang manusia bukan  karena  suatu  pembunuhan  atau  karena
 melakukan  keonaran  di  muka  bumi ini, maka orang itu seolah
 membunuh semua manusia. Dan barangsiapa dapat memelihara hidup
 seorang  manusia,  maka  seolah  ia  telah  menghidupkan semua
 manusia. Rasul-rasul Kami  kepada  mereka  pun  sudah  datang,
 sudah  memberikan  keterangan-keterangan  yang  jelas.  Tetapi
 sesudah itu masih banyak juga di kalangan  mereka  orang-orang
 yang  melampaui  batas  melakukan kejahatan di muka bumi ini."
 (Qur'an, 5: 27 - 32)
 
 Pembunuhan seorang saudara atas saudaranya jelas sekali karena
 dendam,  dengki,  perangai  yang  kasar  dan keras hati Tetapi
 saudaranya itu orang yang bertakwa, yang  takut  kepada  Tuhan
 ketika  dikatakan  oleh  saudaranya: aku akan membunuhmu - ia,
 tidak mau meminta  pengampunan  Tuhan,  bahkan  katanya:  Akan
 kubiarkan  engkau  memikul  dosaku  dan  dosamu sendiri supaya
 engkau menjadi isi neraka. Ini adalah  suatu  dominasi  kodrat
 manusia  serta  logika  hukum terhadap kebesaran jiwa dan maaf
 yang sungguh indah. Anak cucu Adam pun berkembang biak di bumi
 ini.  Lalu  Tuhan  mengutus  para  nabi  kepada  mereka dengan
 memberikan berita gembira di samping peringatan. Tetapi mereka
 tetap  bersikeras,  masih  dalam  kesesatan.  Kehidupan rohani
 mereka jadi beku, hati mereka kaku  tertutup.  Tuhan  mengutus
 Nuh dengan mengajak golongannya sendiri, supaya hanya Tuhanlah
 Yang disembah sebab "aku kuatir  kamu  akan  mendapat  siksaan
 Tuhan."  Ia  pun  didustakan  oleh  masyarakat  itu  dan hanya
 sedikit saja yang  mau  percaya.  Sesudah  itu  berturut-turut
 datang  pula  nabi-nabi  yang  lain  sesudah  Nuh, datang pula
 ajaran-ajaran    yang    menyerukan    agar    jangan    orang
 mempersekutukan  Tuhan.  Akan  tetapi  sikap manusia itu lebih
 berkuasa, pikiran mereka  tetap  beku  belum  dapat  memahami.
 Beberapa macam manifestasi alam ini dijadikannya Tuhan. Setiap
 ada seorang rasul yang diutus Tuhan, ada yang  mendustakannya,
 ada  pula  yang  membunuhnya.  Akan tetapi kekakuan mereka itu
 berangsur kendor. Dengan datangnya ajaran-ajaran Tuhan  secara
 berturut-turut  itu  sudah  merupakan  bibit  yang  baik  juga
 meskipun lamban sekali tumbuhnya. Sungguhpun begitu namun  ada
 juga  meninggalkan  bekas. Pernahkah ajaran kebenaran itu pada
 suatu waktu menjadi hilang! Kalau pun  orang  sudah  terdorong
 oleh  rasa  congkak  dan  tinggi  hati terhadap ajaran itu dan
 dalam beberapa hal mereka memperolok  pembawanya,  namun  bila
 mereka    sudah   kembali   seorang   diri,   mereka   kembali
 bertanya-tanya tentang Kebenaran yang ada  dalam  ajaran  itu.
 Hanya   saja   mereka   yang  dapat  memahami  kebenaran  yang
 terkandung didalamnya tidak banyak jumlahnya.
 
 Pada masa Firaun di Mesir para pendetanya percaya akan keesaan
 Tuhan.   Tetapi   mereka   mengajar  orang  sebaliknya  dengan
 bermacam-macam Tuhan. Tidak lain mereka melakukan  itu  karena
 ingin   mempertahankan   kekuasaan  terhadap  orang  lain  dan
 mempertahankan  kedudukan   mereka.   Malah   sengaja   mereka
 memerangi Musa dan Harun ketika keduanya datang kepada Firaun,
 mengajaknya menyembah Tuhan, dan dimintanya  Anak-anak  Israil
 itu dilepaskan pergi bersama mereka.

 Oleh  Qur'an  juga  diceritakan berita tentang para nabi, yang
 silih berganti  selama  beberapa  generasi  di  kalangan  umat
 manusia.  Tetapi umat itu tetap dalam kesesatan; hanya sedikit
 saja yang mendapat petunjuk  Tuhan  dalam  mengenal  kebenaran
 itu.  Dalam  kisah-kisah para nabi ada suatu gejala yang perlu
 sekali direnungkan.  Untuk  jelasnya,  baik  juga  kalau  kita
 kembali  ke  masa  Musa dan Isa serta kepada tuntunan Muhammad
 'alaihissalam kemudian.
 
 Gejala ini ialah adanya pemisahan atau yang semacarn itu  pada
 mulanya,  antara  rasio  dan logikanya dengan iman kepercayaan
 yang didasarkan kepada mukjizat dan  hal-hal  yang  tak  masuk
 akal.  Para nabi itu oleh Tuhan telah diperkuat dengan mujizat
 untuk  masyarakatnya,  supaya  mereka  percaya.  Sungguh   pun
 demikian  cuma sedikit mereka itu yang mau percaya. Logika dan
 cara berpikir mereka belum cukup untuk dapat  memahami,  bahwa
 Tuhan  menciptakan  segalanya,  bahwa  Ia  Maha Kuasa. Setelah
 dengan ketentuan Tuhan Musa disuruh keluar meninggalkan Mesir,
 sebelum  kerasulannya  itu  ia  pergi dari sana dengan membawa
 perasaan takut. Ketika sampai pada sebuah mata air di  Madyan,
 ia  kawin  dengan  seorang  wanita  penduduk kota itu. Setelah
 Tuhan  memberi  ijin  ia  kembali,  ...  terdengar  ada  suara
 memanggilnya dari balik lembah sebelah kanan, pada tempat yang
 telah diberi berkah dari batang pohon itu:
 
 "Hai Musa! Aku ini Allah,  Tuhan  semesta  alam.  Lemparkanlah
 tongkatmu!,  Setelah  dilihatnya  tongkat  itu  bergerak-gerak
 seperti ular, ia lari ke belakang  tidak  menoleh  lagi.  'Hai
 Musa!   Kembalilah,   jangan   takut!  Engkau  sudah  mendapat
 lindungan keamanan. Masukkanlah tanganmu kedalam saku  bajumu,
 niscaya  akan  keluar  dalam  keadaan  putih  tanpa  cacat dan
 dekapkan tanganmu ke badanmu jika engkau merasa takut.' Inilah
 dua   mujizat   dari   Tuhan   ditujukan   kepada  Firaun  dan
 pembesar-pembesarnya;  sebab  mereka  itu   orang-orang   yang
 jahat." (Qur'an, 28: 30 - 32)
 
 Sungguhpun  begitu  tukang-tukang  sihir Firaun itu tidak juga
 percaya kepada ajakan Musa. Ketika kemudian  apa  yang  mereka
 kerjakan   itu  disergap  oleh  tongkat  Musa,  ketika  itulah
 tukang-tukang sihir itu menyerah sujud, lalu  mereka  berkata:
 Kami  beriman  kepada  Tuhannya  Harun  dan  Musa.  Sungguhpun
 demikian orang-orang Israil masih juga  dalam  keadaan  sesat,
 sampai-sampai  mereka  berkata kepada Musa: "Perlihatkan Allah
 itu terang-terang kepada kami." Setelah  Musa  wafat,  kembali
 mereka menyembah anak sapi. Kemudian sesudah Musa, datang lagi
 nabi-nabi yang lain kepada mereka, diajaknya mereka  menyembah
 Allah.    Tetapi    nabi-nabi   itu   malah   dibunuh   dengan
 sewenangwenang.  Setelah  kemudian  mereka  kembali   teringat
 kepada  Tuhan, mereka menanti-nantikan kedatangan seorang nabi
 lagi yang akan  dapat  mengembalikan  kerajaan  mereka  dengan
 memerintah dunia untuk selama-lamanya.
 
 Peristiwa ini berlangsung dalam sejarah belum begitu lama dari
 kita. Tidak lebih dari 25 abad yang lalu. Dalam pada itu jelas
 sekali   ini   membuktikan  adanya  dominasi  perasaan  diatas
 pengertian rohani.  Sesudah  lampau  lima-enam  abad  kemudian
 datang  pula  Isa  mengajak masyarakatnya itu menyembah Tuhan,
 diperkuat dengan Ruh Kudus dari Tuhan. Oleh karena  Isa  orang
 Yahudi,  ketika  begitu  pertama  kali  berita tentang dia itu
 sampai kepada pihak Yahudi mereka  menduga  bahwa  dia  inilah
 nabi  yang mereka nanti-nantikan (Messiah) untuk mengembalikan
 kerajaan yang hilang itu ke Tanah atau Negeri yang Dijanjikan.
 Mereka  rindu  sekali akan kerajaan semacam ini setelah begitu
 lama mereka  berada  dibawah  kekuasaan  dan  kekejaman  pihak
 Rumawi.  Akan  tetapi  mereka masih menunggu, ingin mengetahui
 keadaan yang sebenarnya tentang diri  Isa.  Adakah  ia  bicara
 kepada  mereka  dengan  bahasa rasio semata-mata? Tidak, malah
 jalan mujizat itulah yang ditempuhnya untuk meyakinkan mereka.
 
 Kalau pun sumber Kristen itu benar. bahwa  ia  telah  mengubah
 air  menjadi  minuman  anggur  dalam suatu pesta perkawinan di
 Kana, Galilea, itulah yang mula-mula menarik perhatian  orang.
 Sesudah  itu  lalu  mujizat  roti  dan  ikan,  mujizat-mujizat
 menyembuhkan orang-orang sakit  dan  menghidupkan  orang-orang
 mati.  Itulah  yang  membuat dia tidak ragu-ragu lagi mengajar
 orang melalui jalan hati dan perasaan tanpa memberikan  tempat
 yang  terutama  kepada rasio dan logika dalam ajaran-ajarannya
 itu. Tetapi bidang ini memang diberikan  lebih  luas  daripada
 yang  pernah  diberikan  oleh  rasul-rasul  sebelumnya.  Dalam
 ajaran-ajarannya itu dorongan  perasaan  kepada  kasih-sayang,
 pengampunan  dosa dan cinta-kasih bercampur-baur dengan ajaran
 rasionil  yang  tidak  dilandasi  oleh  dalil  logika  tentang
 Kerajaan  Tuhan.  Apabila ada rasa syak yang menyusup ke dalam
 hati orang mengenai ajaran  rasionil  ini  maka  Tuhan  segera
 memberikan  mujizat  baru  yang akan membuat orang lebih dapat
 menerima dan percaya kepada  Almasih.  Dengan  mujizat-mujizat
 yang  telah  dapat menyembuhkan penyakit kusta, orang buta dan
 menghidupkan   orang   mati,   sudah   begitu   jauh   membuat
 pengikut-pengikutnya   percaya,  sehingga  sebagian  ada  yang
 mengira dia adalah Tuhan yang  menjelma  di  atas  bumi  untuk
 menebus  dosa  umat manusia. Ini bukti yang jelas sekali bahwa
 kemampuan rasio sampai pada waktu  itu  belum  begitu  matang,
 yang  akan  membuat orang dengan itu saja sudah dapat memahami
 hakekat tertinggi tentang arti Al-Khalik dan  bahwa  Dia  Maha
 Esa, Tempat segalanya bergantung, tidak beranak dan tidak pula
 diperanakkan, dan tiada suatu apa pun yang menyerupaiNya.
 
 Pada zaman  Musa  dan  Isa  itu  keadaan  ilmu,  filsafat  dan
 perundang-undangan  di  Mesir  zaman  Firaun  sudah  pindah ke
 Yunani dan Rumawi, dan dengan segala pengaruhnya  sudah  dapat
 menguasai  cara  berpikir  bangsa-bangsa  itu  terutama  dalam
 bidang filsafat dan peradaban Yunani. Kesadaran berpikir logis
 sudah  mulai menggugah orang bahwa hal-hal yang tak masuk akal
 dengan sendirinya secara logis tak dapat  dijadikan  pegangan.
 Karena  pengaruh  itu  pula  filsafat  Yunani yang bertetangga
 dengan agama Kristen di Mesir, Palestina dan Syam telah  dapat
 menimbulkan bermacam-macam mazhab Kristen - seperti sudah kita
 sebutkan dalam  buku  ini.  Dalam  undang-undang  Tuhan  sudah
 menentukan  bahwa  akal  pikiran  adalah  mahkota  hidup  umat
 manusia, dengan  syarat  bahwa  pikiran  demikian  itu  jangan
 sampai  kering  tanpa  perasaan  dan jiwa. Bahkan hendaknya ia
 dapat menjadi pikiran yang berimbang, dapat mengimbangi  akal,
 perasaan  dan jiwa, sehingga dapat ia memahami rahasia-rahasia
 alam ini sejauh mungkin. Demikian juga Tuhan telah  menentukan
 pula  kedatangan seorang nabi yang akan membawa Islam ke dalam
 alam ini dengan mengajarkan kebenaran  menurut  hukum  logika,
 dilandasi  oleh  perasaan  dan  jiwa,  dan  yang  akan menjadi
 mujizat  logika  ini  ialah  Kitab  Suci  Qur'an  yang   telah
 diwahyukan oleh Allah kepada Nabi. Dengan demikian Tuhan telah
 menyempurnakan agama  ini  dan  memberikan  nikmat  secukupnya
 kepada  umat  manusia.  Ia  telah  menjadi mahkota dan penutup
 semua ajaran Ilahi
 
 Tetapi semua itu terjadi baru setelah adanya  perjuangan  yang
 begitu  berat  terus-menerus,  yang juga pernah dilakukan oleh
 para nabi dan para rasul, yang membawa  umat  manusia  kedalam
 evolusi  rohani  sehingga akhirnya ajaran Islam dapat mencapai
 kemurnian  tauhid  serta  keimanan  kepada  Tuhan  Yang   Maha
 Tunggal.
 
 Untuk  melengkapi  akidah ini maka keimanan itu harus meliputi
 beberapa kewajiban  seperti  yang  sudah  kita  sebutkan  pada
 pembahasan  pertama  dalam penutup buku ini. Supaya orang yang
 beriman  dapat  mencapai  puncak  akidahnya  maka   ia   harus
 sungguh-sungguh  dapat  memahami  hukum  Tuhan  dalam alam ini
 dengan cara terus-menerus sampai pada waktu Tuhan  menciptakan
 bumi  dengan  segala isinya ini. Dan inilah yang sudah dimulai
 oleh orang-orang Islam  pada  permulaan  sejarahnya  dan  pada
 zaman berikutnya, hingga tiba masanya zaman itu beredar lagi.
 
 Alasan-alasan  yang saya kemukakan ini dengan sendirinya sudah
 membantah  apa  yang  ditafsirkan  oleh  orientalis-orientalis
 tentang  jabariah  Islam serta tafsiran mereka tentang takdir,
 nasib dan umur seperti  yang  terdapat  dalam  Qur'an.  Dengan
 tidak  usah diragukan lagi argumen ini sudah dapat memperkuat,
 bahwa Islam  agama  usaha,  agama  perjuangan  dalam  pelbagai
 lapangan  hidup, rohani dan ilmu, agama dan dunia. Dalam hukum
 alam  ini  Tuhan  sudah  menentukan  bahwa  manusia   mendapat
 ganjaran  sesuai  dengan  perbuatannya, dan bahwa Tuhan takkan
 merugikan  siapa  pun,  tapi  manusia  itu   sendirilah   yang
 merugikan  dirinya.  Mereka  merugikan  diri  sendiri bilamana
 mereka menduga bahwa mereka sudah mendapat kasih  Tuhan  hanya
 dengan  berpeluk  lutut  dan  menyerah  begitu  saja atas nama
 tawakal kepada Allah.

 Kendatipun argumen-argumen ini sudah cukup kuat sesuai  dengan
 maksud   yang   saya  kemukakan  itu,  namun  saya  tak  dapat
 mengabaikan argumen terakhir yang saya  pandang  sangat  tepat
 dan  kuat sekali, yakni argumen yang dapat diambil dari firman
 Tuhan:
 
 "Harta dan anak-anak keturunan adalah hiasan kehidupan  dunia,
 tetapi  perbuatan  baik  yang kekal lebih baik pahalanya dalam
 pandangan Tuhan serta harapan yang lebih baik pula."  (Qur'an,
 18: 46)
 
                                     (bersambung ke bagian 5/6)
 

Sejarah Hidup Rasulullah Muhammad SAW

Comments: (0)
 
2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (3/6)
 Muhammad Husain Haekal
 
 "Yang  paling  mulia  di  kalangan  kamu dalam pandangan Tuhan
 ialah yang  paling  takwa  -  yang  dapat  menjaga  diri  dari
 kejahatan."
 
 "Dan  bekerjalah,  nanti  Tuhan  akan  melihat hasil pekerjaan
 kamu, dan balasan diberikan hanya sesuai dengan apa yang  kamu
 lakukan."
 
 Dan  Kebenaran  terbesar  ialah  bahwa  Allah itu Benar, tiada
 Tuhan selain Dia.
 
 Maut, akhir dan  permulaan  hidup.  Akhir  hidup  duniawi  dan
 permulaan  hidup akhirat. Soal hidup duniawi yang kita ketahui
 hanya sedikit sekali. Yang kita ketahui  tentang  hidup  hanya
 yang  berhubungan  dengan  indera  kita, dengan akal kita yang
 membimbing kita, kemudian dengan jantung kita yang  membukakan
 rahasia  hidup  itu kepada kita. Sedang mengenai hidup akhirat
 tak  ada  yang  dapat  kita  ketahui  selain  apa  yang  sudah
 diterangkan  Tuhan  kepada  kita.  Hukum-hukum  alam buat kita
 masih  gelap.  Ilmunya  ada  pada  Tuhan.   Apa   yang   sudah
 diterangkan  Tuhan  dalam  Kitab  Suci  mengenai hal ini sudah
 memadai kiranya, bahwa  itu  adalah  tempat  pembalasan.  Kita
 menyiapkan  diri  kita  dalam dunia ini dengan perbuatan kita,
 dengan kehendak dan niat kita serta sikap  kita  sesudah  itu;
 kita  bertawakal  kepada  Allah  akan adanya balasan yang adil
 itu. Sedang apa  yang  dibalik  itu  soalnya  ada  pada  Tuhan
 semata-mata.
 
 Sudahkah  agaknya  mereka  sependapat dengan Washington Irving
 dari kalangan Orientalis dan diluar Orientalis  dalam  melihat
 sampai   berapa  jauh  kesalahan  mereka  dalam  menggambarkan
 jabariah Islam itu? Yang kita catat disini hanyalah  yang  ada
 didalam Qur'an. Kita tidak ingin menempatkan masalah ini dalam
 suatu perdebatan seperti pendapat ahli-ahli  ilmu  kalam  dari
 kalangan  kaum  sufi  dan  yang lain, termasuk para filsuf dan
 golongan-golongan tertentu dalam kalangan Muslimin. Yang jelas
 sekali  kesalahan  Irving  ialah dugaannya bahwa masalah qadza
 dan qadar (takdir atau nasib) dan  ketentuan  umur  diturunkan
 dan disebutkan di dalam Qur'an sesudah Perang Uhud dan setelah
 terbunuhnya Hamzah sebagai syahid utama.  Pada  hal  ayat-ayat
 yang  sudah  kita  kutipkan  itu ialah ayat-ayat yang turun di
 Mekah  sebelum  hijrah   dan   sebelum   peperangan-peperangan
 dimulai.  Irving dan yang semacamnya telah terjerumus ke dalam
 kesalahan semacam itu sebab mereka tidak mau menyulitkan  diri
 dalam  membahas persoalan yang begitu penting dengan cara yang
 ilmiah dan cermat. Bahkan mereka menggambarkan  Islam  menurut
 konsepsi  yang  sejalan  dengan  kecenderungan  mereka sendiri
 sebagai orang-orang  Kristen,  lalu  mereka  mengarang-ngarang
 dalil  menurut nafsu mereka sendiri, dengan dugaan bahwa dalil
 mereka itu akan sudah meyakinkan pembaca tanpa ada orang  lain
 yang akan membuktikan kesalahan mereka itu.

 Kalau  kalangan  Orientalis dapat memahami arti jabariah Islam
 seperti yang sudah kita gambarkan, niscaya mereka  dapat  pula
 menghargai  konsepsi  filsafatnya  yang  begitu tinggi, begitu
 dalam  melukiskan  hidup  ini   sehingga   dapat   menampilkan
 teori-teori  ilmu  dan  filsafat.  Dan  ini telah dicapai oleh
 pikiran   manusia   dalam   pelbagai   zaman   dengan   segala
 perkembangan  dan  kemajuannya.  Pengertian filsafat Islam ini
 ialah  pengertian  yang  berimbang,  yang  tidak  mempersempit
 pengertian  determinisma,  dunia  sebagai  kemauan dan pikiran
 (die Welt als Wille und  Vorstellung)  dan  evolusi  kreatif.5
 Bahkan  semua  mazhab itu, dalam susunannya mengikuti jalannya
 hukum alam dan kehidupan. Kalau  pun  disini  tempatnya  tidak
 cukup  memadai untuk menjelaskan gambaran ini, namun akan saya
 coba meringkaskannya dengan seteliti dan sejelas mungkin. Saya
 kira  orang  yang  sudah  membaca  apa  yang  saya  tulis akan
 sependapat, bahwa dari semua yang pernah kita ketahui  tentang
 teori-teori,  pengertian  ini  memang  sangat tinggi, luas dan
 dalam sekali. Pengertian ini  kemudian  hari  akan  membukakan
 jalan pada pemikiran umat manusia yang lebih agung.
 
 Sebelum  saya  menjelaskan ini secara ringkas, ada dua masalah
 ingin saya catat dalam hal  ini,  hendaknya  jangan  dilupakan
 pertama dengan ini saya tidak bermaksud hendak menentang teori
 Kristen. Apa yang pernah diajarkan Isa, oleh Islam juga diakui
 seperti  sudah  beberapa  kali  saya  sebutkan dalam buku ini.
 Hanya saja apa  yang  diajarkan  Islam  lebih  menyeluruh  dan
 memahkotai    semua   kenabian   dan   kerasulan   sebelumnya.
 Kitab-kitab Injil telah juga menegaskan kata-kata  Yesus  ini.
 "Janganlah  kamu  menyangka  bahwa Aku datang untuk meniadakan
 Hukum Taurat atau kitab para  nabi.  Aku  datang  bukan  untuk
 meniadakannya  melainkan  untuk  menggenapinya."  Begitu  juga
 keimanan Muslimin kepada Ibrahim, kepada Musa, kepada Isa  dan
 nabi-nabi  yang  lain  sebelum  itu,  semua  sama.  Hanya saja
 kedatangan Islam melengkapi apa yang telah diutus Tuhan kepada
 mereka  itu,  mengoreksl  kata-kata yang telah dibelokkan oleh
 pengikut-pengikut mereka, dari  arti  yang  sebenarnya.  Kedua
 mengenai   filsafat  Islam  yang  diambil  dari  Qur'an  sudah
 dikemukakan orang sebelum saya,  meskipun  tidak  sama  dengan
 yang  saya kemukakan sekerang ini. Hanya saja yang saya tempuh
 dalam hal ini sesuai dengan garis tuntunan Qur'an  dan  dengan
 cara  yang  sesuai  dengan  metoda  ilmiah sekarang. Kalau ini
 berhasil mencapai sasarannya, sudah tentu  karena  rahmat  dan
 karunia  Tuhan  juga. Kalau hasil itu belum juga saya peroleh,
 maka doa yang paling besar saya panjatkan kepada  Tuhan  ialah
 semoga  mereka  yang  berpengetahuan  dapat  memberi  petunjuk
 kepada saya untuk mencapai sasaran itu.
 
 Yang mula-mula ditentukan oleh Qur'an ialah bahwa Tuhan  sudah
 menentukan  hukum  tertentu dalam alam semesta ini, yang tidak
 berubah-ubah dan bertukar-tukar. Sudah tentu  alam  itu  bukan
 hanya  planet  kita  ini saja dengan segala isinya, Juga bukan
 terbatas hanya pada apa yang tertangkap oleh pancaindera  kita
 saja  yang  terdiri  dari planet-planet dan tata surya, tetapi
 alam itu ialah segala yang diciptakan Tuhan,  yang  dapat  dan
 yang tidak dapat dirasakan - sensibilia dan insensibilia, yang
 nyata dan yang gaib. Untuk  mengetahui  hal  ini  benar-benar,
 cukup  kalau  kita  bayangkan  bahwa pengetahuan yang ada pada
 kita memang sedikit sekali: eter yang ada di sekitar kita  dan
 sekitar  tata  surya yang lain, listrik yang memenuhi eter dan
 memenuhi bumi kita, jarak yang  begitu  jauh  memisahkan  kita
 dari  matahari  dan  planet-planet  lain  yang lebih jauh dari
 matahari, dan di balik planet-planet itu yang jaraknya  sampai
 ribuan tahun cahaya lebih jauh dari matahari.6
 
 Kemudian,  dibalik  semua itu yang tiada terbatas, yang takkan
 dapat dijangkau oleh imajinasi kita, dan yang halnya ada  pada
 Tuhan ilmunya    semua  itu  berjalan menurut hukum yang sudah
 pasti tak berubah-ubah. Apa yang sudah kita ketahui semua  ini
 berdasarkan  data  ilmiah menurut istilah kita sekarang - yang
 tidak mencampur adukkan fantasi dengan fakta.  Kemudian  fakta
 itu  disamping  fantasi  menjadi makin kecil sampai sedemikian
 rupa, kemudian fakta itu masih tinggal sejauh yang dapat  kita
 ketahui,  yang  dapat  kita  ukur menurut ukuran kita, dan apa
 yang kita peroleh dengan dasar itu,  itulah  yang  kita  sebut
 hukum  alam  dan  kehidupan. Kalau kita mau melepaskan fantasi
 kita sebebas-bebasnya untuk menggambarkan betapa kecilnya  apa
 yang  kita  ketahui itu, tentu contohnya akan banyak sekali di
 hadapan kita, sehingga ruangan dalam buku ini pun akan terlalu
 sempit  karenanya.  Kita  ambil misalnya penghuni planet Mars.
 Mereka membangun sebuah pemancar dengan  kekuatan  100.000.000
 kilowatt  supaya  dengan  demikian  apa yang terjadi di tempat
 mereka  diperdengarkan  dan  diperlihatkan   melalui   pesawat
 televisi  kepada kita penghuni bumi ini. Sesudah itu, dapatkah
 kita menahan pikiran kita? Sedang Mars  bukanlah  planet  yang
 terjauh  jaraknya dari kita, juga bukan yang paling sulit akan
 dapat kita hubungi.
 
 Pengetahuan kita tentang alam ini yang hanya  sedikit  sekali,
 segala  yang  ada  dalam alam itu memberi pengaruh juga kepada
 kehidupan bumi kita dengan segala isinya. Andaikata satu  saja
 dari  planet-planet  itu  dengan  ketentuan dari Tuhan berbeda
 edarannya, tentu hukum alam itu akan jadi berubah, dan berubah
 pula  hidup kita yang pendek dan sedikit ini, terpengaruh oleh
 keadaan di sekitar  kita,  oleh  hal-hal  yang  tiada  penting
 sekalipun. Hidup itu terpengaruh dan tunduk kepada kodrat alam
 karena  peristiwa-peristiwa  alam  yang   besar-besar.   Dalam
 menerima  pengaruh  itu  kadang  ia menjurus kepada yang baik,
 kadang malah menyimpang. Baik dalam tujuan  yang  menjurus  ke
 arah  yang baik atau yang menyimpang, dalam kedua hal itu atas
 dasar yang mempengaruhinya tidak didorong  oleh  faktor-faktor
 kehidupan saja melainkan juga oleh kesediaannya dalam menerima
 pengaruh kehidupan itu serta kekuatan yang timbal-balik saling
 mempengaruhi.  Ada beberapa faktor tertentu yang dapat memberi
 pengaruh besar dan beranekarupa kedalam jiwa  orang.  Kemudian
 pengaruh-pengaruh  itu  akan  saling  terdesak ke sudut. Salah
 satu diantaranya akan  jadi  juru  pemisah,  akan  jadi  batas
 antara yang baik dengan yang jahat. Yang selebihnya, yang satu
 akan menjurus kepada yang baik, yang lain kepada yang jahat.

 Adanya yang baik dan yang jahat dalam kehidupan ini tidak lain
 ialah  suatu  akibat  saja  dari adanya saling pengaruh antara
 faktor-faktor  kehidupan  dengan  jiwa  manusia.  Oleh  karena
 itulah  yang  baik dan yang jahat itu sudah merupakan sebagian
 dari gejala hukum yang sudah  pasti  dalam  alam  ini.  Adanya
 kedua  sifat  baik  dan  jahat  ini sudah pula merupakan suatu
 keharusan, seperti halnya  dengan  negatif  dan  positif  yang
 merupakan suatu keharusan adanya listrik. Demikian juga adanya
 beberapa macam kuman sudah  merupakan  keharusan  hidup  dalam
 tubuh manusia.
 
 Tidak  ada  suatu  kejahatan  hanya  untuk kejahatan saja atau
 kebaikan hanya untuk  kebaikan  saja;  tetapi  itu  tergantung
 kepada maksud yang menjadi tujuannya serta akibat yang terjadi
 karenanya. Adakalanya terjadinya kejahatan  dan  kebaikan  itu
 karena  keharusan yang mendesak sekali. Alat-alat perusak yang
 digunakan dalam peperangan untuk menghancurkan jutaan manusia,
 memusnakan  karya-karya ciptaan manusia yang sungguh agung dan
 indah, diwaktu damai besar sekali artinya. Kalau tidak  karena
 dinamit  manusia takkan mampu membelah terowongan dan memasang
 jalan  kereta   api   didalamnya,   takkan   mampu   menemukan
 tambang-tambang   yang  berisikan  harta  karun  terdiri  dari
 batu-batu dan logam yang  sangat  berharga.  Begitu  juga  gas
 beracun  yang  dilepaskan  orang  yang sedang berperang kepada
 penduduk sipil dari bangsa yang diperanginya dan yang dianggap
 sebagai suatu cemar dan cacat besar kepada perikemanusiaan dan
 sebagai suatu manifestasi  kebiadaban  dan  kepengecutan  yang
 tiada taranya, dimasa damai gas ini besar sekali faedahnya; ia
 dapat mengabdi kepada perikemanusiaan, menolong  umat  manusia
 dari  pelbagai penyakit menular yang cukup mengerikan. Gas ini
 juga yang dapat menjernihkan air dari  kuman-kuman  berbahaya,
 seperti  gas  chlorine  misalnya.  Dalam  dunia  perkapalan ia
 berguna sekali karena sebagian dapat digunakan  membasmi  hama
 tikus  dan  sebagian  lagi  dapat  membahayakan kehidupan para
 nelayan. Dahulu kala orang membayangkan, bahwa ada jenis-jenis
 serangga,  burung  dan  binatang-binatang yang sama sekali tak
 ada gunanya. Tetapi kemudian setelah diselidiki dan dipelajari
 betapa  besar  manfaat  serangga-serangga,  burung-burung  dan
 binatang-binatang itu buat  manusia.  Negara  pun  telah  pula
 membuat  undang-undang  memberikan  suaka  dan  melarang orang
 membunuh  atau  memburunya,  mengingat  betapa   menguntungkan
 makhluk-makhluk  itu  untuk  umat  manusia.  Mereka yang telah
 mempelajari makhluk-makhluk ini melihat bahwa  makhluk-makhluk
 ini  ingin  damai, ingin sekali menyesuaikan diri dengan dunia
 disekitarnya  dalam  batas-batas   ia   dapat   mempertahankan
 eksistensinya,   supaya   dapat  pula  ia  mengimbangi  adanya
 kebaikan yang harus dipelihara.  Binatang-binatang  ini  tidak
 mengganggu,  kecuali  bila hendak membela diri, bila ada pihak
 yang menyerangnya atau yang mengganggunya.
 
 Juga  perbuatan-perbuatan  kita  sebagai  manusia  tidak   ada
 kebaikan  hanya untuk kebaikan saja atau kejahatan hanya untuk
 kejahatan saja; tetapi yang ada, semua itu  tergantung  kepada
 maksud  yang  menjadi  tujuannya  serta  akibat  yang  terjadi
 karenanya. Bukankah pembunuhan itu suatu perbuatan  dosa  yang
 dilarang?  Sungguhpun  begitu  dalam melarang pembunuhan Tuhan
 berfirman:
 
 "Dan janganlah kamu membunuh yang oleh Tuhan  sudah  dilarang,
 kecuali  jika  atas  dasar  kebenaran."  Membunuh  atas  dasar
 kebenaran tidak berdosa. "Dengan  hukum  qishash  itu  berarti
 suatu kelangsungan hidup bagimu, hai orang-orang yang mengerti
 ..."
 
 Algojo yang membunuh  seorang  penjahat  yang  telah  dijatuhi
 hukuman   mati,  orang  yang  membunuh  karena  membela  diri,
 prajurit yang membunuh karena membela tanah air, orang beriman
 yang   membunuh  supaya  jangan  digoda  orang  dan  keyakinan
 agamanya - mereka semua tidak melakukan perbuatan dosa,  tidak
 melakukan  pelanggaran.  Tidak lebih mereka hanya menyampaikan
 tugas yang telah diwajibkan Tuhan kepada mereka,  dan  balasan
 untuk  mereka  pun  sebagai  orang-orang  yang  telah  berbuat
 kebaikan.
 
 Apa  yang  berlaku  terhadap  pembunuhan  itu,  berlaku   juga
 terhadap  yang  lain,  terhadap perbuatan-perbuatan yang silih
 berganti antara yang baik  dengan  yang  jahat.  Sarjana  yang
 telah menemukan alat-alat perusak untuk kepentingan pertahanan
 tanah air, atau alat-alat perusak yang dapat  memberi  manfaat
 kepada dunia di masa damai, orang yang membuat senjata, setiap
 pekerja, setiap orang di muka  bumi  ini,  apakah  ia  bekerja
 untuk  melakukan  pekerjaan  baik  atau melakukan pelanggaran,
 tergantung kepada sasaran yang menjadi tujuannya serta  akibat
 yang terjadi karena perbuatannya itu.

 Ini  adalah  iradat  dan  undang-undang Tuhan dalam alam. Oleh
 karena dalam menangkap hukum ini manusia yang diciptakan Tuhan
 itu  kesanggupannya  bertingkat-tingkat satu dengan yang lain,
 maka ada orang yang hanya memusatkan seluruh kegiatannya  pada
 "titik" tempat ia dilahirkan, serta berusaha mengembangkan dan
 memeliharanya, ada pula yang bakatnya dalam kerajinan,  sedang
 yang  lain  punya bakat dalam bidang usaha lain - dalam bidang
 kesenian, tehnik, ilmu pengetahuan misalnya, yang tidak begitu
 mudah  bagi  mereka  akan dapat menangkap arti hukum itu. Oleh
 karena mengenal hukum alam itu merupakan  dasar  bagi  manusia
 supaya  ia  dapat  mencapai  tujuan  hidupnya,  maka  ada pula
 diantara mereka yang telah diberi bakat  kenabian.  Yang  lain
 diberi  kesanggupan  untuk menjelaskan ajaran itu kepada kita,
 mana yang baik dan  mana  pula  yang  jahat.  Yang  lain  lagi
 mendapat  karunia  berupa  ilmu  dan pikiran yang akan membuat
 mereka menjadi pewaris para nabi, maka dituntunnya kita kepada
 apa  yang  harus  kita  lakukan  dan apa- pula yang harus kita
 hindarkan. Juga kita  dilengkapi  dengan  tenaga  pikiran  dan
 perasaan,  supaya  kita  dapat menangkap ajaran yang diberikan
 kepada kita. Dengan itu kita dapat melatih  diri  supaya  kita
 dapat  mencapai  tujuan  kita  dalam hidup ini sebaik-baiknya,
 supaya kita dapat mengajak orang  berbuat  baik  dan  mencegah
 melakukan kejahatan.
 
 Sungguhpun  begitu,  apabila  ada  orang-orang yang terjerumus
 dalam hal ini sampai mereka itu melakukan pelanggaran  -  lalu
 untuk  menjaga  eksistensinya  masyarakat  menjatuhkan hukuman
 kepada mereka dengan maksud supaya  pelanggaran  mereka  tidak
 sampai  merugikan  masyarakat  - maka adanya hukuman ini tidak
 berarti suatu jalan buntu untuk mereka bertaubat  dan  kembali
 kepada  kebenaran. Barangsiapa melakukan perbuatan dosa karena
 tidak tahu kemudian ia menyadari  dan,  mau  mengubah  keadaan
 dirinya,  mau  kembali  kepada Tuhan sebagai orang yang patuh,
 Tuhan  akan  mengampuni  dosanya  yang  telah  lampau.  Dengan
 demikian  orang  yang  telah  bersalah  dan  berbuat dosa akan
 mengambil  pelajaran  dari  peristiwa  sejarah  itu  dan  akan
 membersihkan  hatinya.  Ia  akan  kembali  ke jalan yang benar
 dengan penuh taubat, dan Allah pun  akan  menerima  taubatnya,
 sebab Dia Maha Pengasih dan Pengampun.

 Gambaran  kehidupan  demikian ini dapat mempertemukan beberapa
 aliran filsafat yang bermacam-macam, yang tadinya diduga tidak
 akan  dapat  dipertemukan.  Jelas  sekali bahwa eksistensi ini
 suatu kemauan. "Sesungguhnya perintah  Kami  terhadap  sesuatu
 apabila  Kami  menghendakinya  Kami hanya mengatakan kepadanya
 'Jadilah!' maka ia pun jadi." Alam dapat memantulkan apa  yang
 dapat  ditangkap oleh daya rasa dan apa yang tidak. Alam sudah
 mempunyai hukum-hukum tertentu, yang  dalam  batas-batas  ilmu
 kita  yang  nyata  ini  kita  dapat  mengetahui  apa yang akan
 dicapai oleh pikiran kita. Makin bertambah kita berusaha  akan
 makin  bertambah pula penemuan kita tentang alam. Yang menjadi
 dasar hukum alam ialah kebaikan. Akan tetapi kejahatan  selalu
 hendak  melawannya  dan  kadang  sampai hampir mengalahkannya.
 Perlawanan kebaikan terhadap kejahatan,  itulah  yang  disebut
 evolusi  kreatif  yang  telah membawa kemajuan yang luar-biasa
 kepada alam dan umat manusia, sehingga dengan langkah  itu  ia
 telah mencapai kesempurnaannya seperti sekarang ini.
 
 Kita  sudah  melihat,  bahwa  gambaran  ini  mengandung  suatu
 konsepsi  dengan  tujuan  hidup  yang  lebih  sempurna  dengan
 lukisan  yang  begitu  baik yang pernah dikenal oleh pemikiran
 filsafat. Disamping apa yang  sudah  kita  sebutkan,  hal  ini
 menunjukkan  penggambaran Qur'an mengenai evolusi rohani dalam
 kehidupan sejak Tuhan menciptakan bumi dengan  segala  isinya.
 "Tuhan  telah  menciptakan  langit  dan  bumi dalam enam hari,
 kemudian Dia pun berkuasa diatas Singgasana." Adakah enam hari
 ini  sama  dengan  hari-hari  kita  di  bumi ataukah hari-hari
 seperti dalam firman Tuhan:
 
 "Satu hari menurut Tuhanmu sama dengan  seribu  tahun  menurut
 perhitungan kamu." (Qur'an, 22: 47)
 
                                     (bersambung ke bagian 4/6)
 

Sejarah Hidup Rasulullah Muhammad SAW

Comments: (0)
 
2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM                       (2/6)
 Muhammad Husain Haekal
 
 Ilmu   ini  tidak  seharusnya  akan  menghentikan  orang  dari
 memikirkan hari kemudian mereka serta berusaha  sekuat  tenaga
 mengikuti  jalan  yang benar dan menghindarkan diri dari jalan
 yang sesat. Ilmu Allah itu  buat  mereka  masih  gaib.  Tetapi
 akhirnya  mereka  akan  sampai juga kepada kebenaran sekalipun
 agak lambat. Tuhan telah menetapkan  sifat  kasih  sayang  itu
 dalam  DiriNya.  Ia  selalu menerima taubat hamba-Nya yang mau
 bertaubat dan  sudah  banyak  dosa  yang  diampuniNya.  Selama
 rahmat  Tuhan  itu  meliputi  segalanya,  manusia  tidak perlu
 berputus asa akan memperoleh jalan yang  benar,  asal  ia  mau
 merenungkan dan memikirkan alam semesta ini. Orang tidak perlu
 berputus asa dari rahmat Tuhan kalau renungannya itu  akhirnya
 akan mengantarkannya ke jalan Allah. Manusia yang celaka ialah
 yang tidak mengakui sifat manusianya, dan merasa dirinya sudah
 terlampau  besar untuk memikirkan dan merenungkan hal-hal yang
 akan mengantarkan dirinya kepada petunjuk Tuhan. Mereka itulah
 orang-orang  yang  hendak  menentang Tuhan, bukan mengharapkan
 beroleh rahmat Tuhan. Jantung mereka oleh Tuhan sudah ditutup,
 mereka  yang  akan menjadi penghuni neraka, yang akan mendapat
 tempat yang paling celaka.
 
 Apakah Orientalis-orientalis itu sudah melihat  arti  jabariah
 Islam  yang  begitu  tinggi,  begitu luas jangkauannya? Apakah
 mereka melihat bahwa anggapan mereka itu memang sangat  lemah,
 yang  menduga bahwa jabariah Islam itu menyuruh orang berpeluk
 lutut tanpa usaha  atau  mau  menerima  hidup  hina  atau  mau
 menyerah  begitu  saja?  Disamping semua itu ajaran ini selalu
 memberikan harapan,  bahwa  pintu  rahmat  dan  taubat  selalu
 terbuka  bagi  barangsiapa yang mau bertaubat. Apa yang mereka
 duga bahwa ajaran ini menyuruh tiap Muslim  menganggap  setiap
 keuntungan  dan malapetaka yang menimpa dirinya sebagai takdir
 yang sudah ditentukan Tuhan dan oleh karenanya ia  harus  diam
 saja,  menerima  segala bencana dan kehinaan itu dengan sabar,
 maka semua itu jauh dari kenyataan yang sebenarnya dari ajaran
 jabariah  ini,  yang mengajar orang supaya selalu berjuang dan
 berusaha untuk memperoleh kerelaan Allah, untuk selalu berhati
 teguh  sebelum  tawakal  kepada  Allah.  Apabila  orang  belum
 berhasil mendapat sukses sekarang, hendaknya terus ia berusaha
 kalau-kalau  besok  ia  berhasil.  Harapannya yang selalu pada
 Tuhan agar langkahnya mendapat bimbingan ke arah  yang  benar,
 agar  mendapat  pengampunan dari segala dosa, adalah pendorong
 yang paling utama untuk berpikir  dan  berusaha  terus-menerus
 dalam  mencapai  tujuan  menurut  kehendak Allah. KepadaNya ia
 menyembah dan kepadaNya pula ia  meminta  pertolongan.  Tempat
 orang  mengharapkan petunjuk batin, dan ke sana pula segalanya
 akan kembali.
 
 Sungguh besar kekuatan  yang  dibangkitkan  oleh  ajaran  yang
 tinggi  ini  kedalam  jiwa  manusia!  Sungguh  luas  jangkauan
 harapan yang dibukakan itu. Kita  terbimbing  kepada  kebaikan
 selama  apa yang kita kerjakan memang karena Allah. Kalau kita
 sampai disesatkan oleh setan, taubat kita  pun  akan  diterima
 selama  pikiran  kita dapat mengalahkan nafsu kita dan membawa
 kita kembali ke  jalan  yang  lurus.  Jalan  lurus  ini  ialah
 undang-undang  Tuhan dalam ciptaanNya, undang-undang yang akan
 menjadi penyuluh kita dengan segenap hati  dan  pikiran  kita,
 serta  dengan  permenungan  kita  akan  segala yang diciptakan
 Tuhan. Dan kita pun mulai berusaha mengenal semua rahasia alam
 itu.
 
 Akan  tetapi,  apabila  sesudah itu masih ada orang yang sesat
 dan mempersekutukan Tuhan, masih ada orang yang mau  melakukan
 kerusakan  di  muka  bumi ini, masih ada yang mau menutup mata
 dari segala arti persaudaraan, maka  itu  adalah  contoh  yang
 diberikan  Tuhan  kepada manusia guna memperlihatkan kekuasaan
 Tuhan sehingga yang demikian itu kelak menjadi  suatu  teladan
 buat  mereka.  Inilah keadilan dan rahmat Tuhan kepada seluruh
 umat  manusia.  Orang  tidak  akan  mencegah  atau   membatasi
 melakukan  semua  itu.  Tetapi  hukuman  yang akan diterimanya
 sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya.
 
 Akan tetapi, buat apa  manusia  berpikir,  buat  apa  bekerja,
 kalau maut itu memang selalu mengintai mereka! Bila ajal sudah
 sampai sesaat pun tak dapat diundurkan  atau  dimajukan.  Buat
 apa  manusia  berpikir  dan  buat apa pula bekerja kalau orang
 yang bahagia sudah ditentukan lebih dulu  akan  jadi  bahagia,
 dan yang sengsara akan jadi sengsara?
 
 Ini   adalah   pertanyaan   ulangan  sengaja  jawabannya  kita
 kemukakan supaya dapat kita lihat masalah ketentuan  ajal  ini
 dari  segi  lain:  Apa  yang sudah ditentukan Tuhan lebih dulu
 ialah undang-undang alam sejak sebelum alam itu diciptakan dan
 sebelum  difirmankan  kepadanya  'Jadilah'! maka ia pun jadi.'
 Dalam melukiskan ini tak ada  yang  lebih  tepat  dari  firman
 Allah  ini "Tuhan kamu telah menetapkan sifat kasih sayang itu
 dalam DiriNya." Ini  berarti  bahwa  kasih  sayang  itu  sudah
 menjadi  sifat  Tuhan  dan menjadi salah satu undang-undangNya
 dalam alam semesta. Tak ada suatu  kewajiban  yang  diharuskan
 terhadap  DiriNya.  Kewajiban memang tidak seharusnya ada atas
 Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini Allah berfirman:
 
 "Kami tiada akan menjatuhkan  siksaan  sebelum  Kami  mengutus
 seorang rasul."
 
 Apabila  ada suatu golongan yang sesat dan kepada mereka Tuhan
 tidak mengutus seorang rasul, maka undang-undang Tuhan  disini
 berlaku  -  tiada  seorang  dari mereka akan dijatuhi siksaan.
 Buat setiap orang yang beriman,  tanda-tanda  kebesaran  Tuhan
 dalam  alam  ini  sudah  wajar  sekali,  bahwa  Tuhanlah  yang
 menciptakan alam. Apabila Tuhan sudah mengutus  seorang  rasul
 kepada   suatu  golongan,  kemudian  berlaku  hukum  alam  dan
 kehendak Tuhan atas golongan itu, yaitu bahwa  setelah  diberi
 petunjuk  ada  orang  dari  golongan tersebut yang masih tetap
 mempertahankan kesesatannya, maka orang yang telah  menganiaya
 dirinya sendiri itu akan menjadi contoh buat orang lain.

 Sungguh  naive  sekali untuk mengatakan bahwa orang yang telah
 sesat  ini  diperlakukan  tidak  adil  karena  telah  dijatuhi
 hukuman  atas  kesesatannya, padahal kesesatan demikian memang
 sudah termaktub lebih dulu (ditentukan) terhadap dirinya. Kita
 mengatakan  naive  untuk  tidak  mengatakan merendahkan Tuhan,
 sebab jalan pikiran yang paling tepat akan  mengatakan  kepada
 kita,  bahwa  barangsiapa  yang  sesat,  ia  telah  menganiaya
 dirinya, bukan Tuhan yang menganiayanya.
 
 Untuk menjelaskan ini  cukup  kiranya  kita  mengambil  contoh
 seorang  ayah  yang  penuh kasih sayang mendekatkan api kepada
 anaknya   yang   masih   bayi.   Kalau   sianak   memegangnya,
 dijauhkannya  api  itu  seraya  memberi isyarat, bahwa api itu
 panas. Kemudian secara berulang-ulang  api  itu  didekatkannya
 lagi  kepada sibayi, tidak apa juga kalau jari bayi itu sampai
 terbakar sedikit supaya dialami sendiri  dalam  kenyataan  apa
 yang  sudah  diperingatkan  kepadanya  itu  dan  supaya selalu
 diingat selama hidupnya. Tetapi  bilamana  sesudah  dewasa  ia
 masih  mau  memegang  api  atau menceburkan diri ke dalam api,
 maka apa yang sudah menimpanya itulah ganjarannya, dan  jangan
 ayahnya  yang  disalahkan,  jangan  ada yang minta supaya sang
 ayah mengalanginya dari perbuatan itu.  Begitu  juga  misalnya
 seorang  ayah  yang sudah memberi petunjuk tentang bahaya judi
 atau minuman keras kepada anaknya. Maka  bilamana  sianak  itu
 kelak  sudah  dewasa  dan  dia  melanggar  juga apa yang sudah
 dilarang oleh ayahnya lalu karenanya ia mendapat bencana, maka
 bukanlah sang ayah yang kejam menganiayanya, sekalipun ia akan
 mampu mencegah dari berbuat demikian. Sang  ayah  sama  sekali
 bukan  kejam kalau membiarkan sianak sampai melanggar apa yang
 sudah menjadi larangan, dan ini merupakan contoh buat keluarga
 dan  saudara-saudaranya  yang  lain.  Begitu juga keluarga dan
 saudara-saudara yang  sampai  ratusan  atau  ribuan  jumlahnya
 dalam sebuah kota yang memang banyak godaannya karena pengaruh
 keadaan. Sudah  cukup  baik  dan  adil  sekali  kiranya  kalau
 konsekwensi  yang tak dapat dihindarkan menimpa mereka sebagai
 ganjaran terhadap perbuatan mereka  sendiri.  Itu  akan  dapat
 memperbaiki keadaan anggota masyarakat yang lain, meskipun apa
 yang telah menimpa anak-anak negeri  yang  aniaya  itu  sangat
 disesalkan.  Inilah  contoh keadilan yang paling sederhana dan
 berimbang  sehubungan  dengan  masyarakat  manusia  kita  ini,
 seperti  yang  sudah  kita  lukiskan  tadi.  Apalagi bila kita
 membayangkan dan membandingkan  dengan  alam  semesta,  dengan
 makhluk-makhluk yang berjuta-juta banyaknya dalam luasan ruang
 dan waktu yang tak terbatas! Apa yang sudah  menimpa  individu
 dan  masyarakat  -  karena perbuatannya sendiri - dalam bentuk
 yang sudah tidak mampu lagi khayal kita membayangkannya, semua
 itu  baru  merupakan  contoh  keadilan atau keseimbangan dalam
 bentuknya yang sangat sederhana.

 Kalau adanya kekejaman itu kita alamatkan  kepada  sang  ayah,
 karena  dia  membiarkan  anaknya yang sesat itu harus menerima
 ganjaran kesesatannya, pada hal  kesesatan  itu  memang  sudah
 termaktub  atas  dirinya, maka juga beralasan sekali kekejaman
 demikian itu kita alamatkan kepada diri kita sebab kita  telah
 membunuh  seekor kutu yang sangat mengganggu, dikuatirkan akan
 membawa  penularan  kepada  kita,  yang   ada   kalanya   akan
 menimbulkan bencana kepada masyarakat kalau ini sampai menular
 kepada orang lain. Atau karena kita membuang batu  dari  dalam
 kandung empedu atau ginjal kita sebab takut mengakibatkan rasa
 sakit atau penderitaan, atau kita memotong salah  satu  bagian
 anggota  tubuh  kita  karena dikuatirkan bagian yang rusak itu
 akan menjalar  ke  seluruh  badan  dan  akibatnya  akan  fatal
 sekali.  Kalau  semua  itu  tidak  kita lakukan, karena memang
 sudah termaktub atas diri kita, kemudian kita  menderita  atau
 sampai  mati  karenanya,  maka  yang  harus  disalahkan akibat
 bencana itu hanyalah diri  kita  sendiri,  sebab  Tuhan  sudah
 membukakan  pintu  penderitaan  buat  kita, sama halnya dengan
 pintu taubat yang  terbuka  buat  orang  yang  berdosa.  Hanya
 orang-orang  bodoh  sajalah  yang  rela  menerima  penderitaan
 demikian itu dengan anggapan bahwa itu memang sudah  termaktub
 atas dirinya. Ini karena kedunguan dan ketololan mereka saja.
 
 Sementara  kita  melihat  kutu yang dibunuh, batu yang dibuang
 dan dicabutnya anggota tubuh yang sakit sungguh adil sekali  -
 meskipun  dalam  hukum  alam  sudah termaktub, bahwa kutu akan
 mengganggu dan akan membawa penularan penyakit kepada manusia,
 batu  dan  anggota tubuh yang sakit akan mendesak bagian tubuh
 yang lain sehingga dapat membinasakan - dengan  melihat  semua
 ini  bagaimana  kita  tidak akan menganggapnya suatu kebodohan
 yang naive sekali, yang tak dapat diterima akal selain pikiran
 egoistis  yang  sempit,  yang  melihat keadilan itu hanya dari
 segi kita yang  subyektif  saja,  dan  tidak  menghubungkannya
 kepada   seluruh  masyarakat  insani,  atau  lebih  dari  itu,
 menghubungkannya kepada alam semesta?!
 
 Apa artinya kutu, batu dan manusia  dibandingkan  dengan  alam
 ini?  Bahkan  apa  artinya  seluruh  umat manusia dibandingkan
 dengan alam? Dengan khayal kita  yang  sempit,  kita  berusaha
 hendak  membayangkan  batas-batas alam yang luas, dengan ruang
 dan waktu, dengan awal dan akhir, dan dengan segala  kata-kata
 yang semacam itu. Sudah tak ada jalan lain lagi buat kita akan
 dapat membayangkan bentuk alam ini selain itu,  karena  memang
 sangat  terbatas  sekali,  sesuai  dengan pengetahuan yang ada
 pada kita, yang juga terbatas, dan masih sedikit  sekali.  Dan
 yang  sedikit ini sudah cukup memperlihatkan kepada kita bahwa
 undang-undang  Tuhan  dalam  alam  ialah  undang-undang   yang
 teratur    dan    seimbang,    yang   tak   berubah-ubah   dan
 bertukar-tukar.  Kita  sampai  mengetahui  undang-undang   ini
 karena   Tuhan   menganugerahkan   kepada   kita  pendengaran,
 penglihatan dan jantung, supaya kita melihat segala  keindahan
 ciptaanNya    ini,   dapat   memahami   alam   sesuai   dengan
 undang-undangNya itu. Maka  kita  pun  mengagungkan  kemuliaan
 Tuhan,  kita  berbuat  baik menurut yang diperintahkanNya. Dan
 berbuat baik atas dasar iman, buat mereka yang mengerti  ialah
 suatu manifestasi ibadat yang paling tinggi kepada Tuhan.

 Maut  ialah  akhir  hidup dan permulaan hidup. Oleh karena itu
 yang merasa takut mati hanya mereka yang menolak adanya  hidup
 akhirat   dan  merasa  takut  pada  kehidupan  akhirat  karena
 perbuatan mereka yang buruk selama dalam dunia.  Mereka  tidak
 ingin  mati  mengingat adanya perbuatan tangan mereka sendiri.
 Akan tetapi mereka yang  memang  sudah  bersedia  mati,  ialah
 orang-orang  yang  benar-benar beriman dan mereka yang berbuat
 kebaikan selama hidup di dunia. Seperti dalam firman Allah:
 
 "Dia Yang telah menciptakan Mati dan Hidup untuk menguji  kamu
 siapa  diantara  kamu  yang  lebih baik perbuatannya. Dia Maha
 Kuasa, Maha Pengampun." (Qur'an, 67: 2)
 
 Dan firmanNya lagi yang ditujukan kepada Nabi:
 
 "Kami tidak pernah menjadikan manusia sebelum engkau itu kekal
 selamanya.  Kalau engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal?
 Setiap jiwa akan merasakan mati dan kamu akan Kami uji  dengan
 yang  buruk dan yang baik sebagai suatu cobaan, dan kamu kelak
 pun akan kembali kepada Kami." (Qur'an, 21: 34 - 35)
 
 "Perumpamaan  mereka  yang  dibebani  membawa  Kitab   Taurat,
 kemudian  tidak mereka bawa, sama seperti keledai yang membawa
 kitab-kitab besar. Buruk sekali perumpamaan  orang-orang  yang
 mendustakan  ayat-ayat  Tuhan  itu;  dan  Tuhan  tidak memberi
 petunjuk kepada orang-orang  yang  zalim.  Katakanlah:  'Wahai
 orang-orang yang menganut agama Yahudi, kalau kamu mendakwakan
 bahwa  kamu   sahabat-sahabat   Tuhan   diluar   orang   lain,
 nyatakanlah  keinginanmu  akan mati itu -jika benar-benar kamu
 jujur. Tetapi kamu tidak akan  pernah  menyatakan  keinginanmu
 itu,  karena perbuatan tangan mereka sendiri yang telah mereka
 lakukan. Tuhan Maha Mengetahui  akan  orang-orang  yang  zalim
 itu." (Qur'an, 62 :5 - 7)
 
 "Dialah  Yang  telah  mengambil jiwamu pada malam hari dan Dia
 mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang harinya. Kemudian
 kamu   dibangkitkan   kembali   supaya  waktu  tertentu  dapat
 dipenuhi. Sesudah itu  kepadaNya  juga  tempat  kamu  kembali.
 Kemudian   kepadamu   diberitahukanNya  apa  yang  telah  kamu
 kerjakan." (Qur'an, 6: 60)
 
 Inilah beberapa ayat yang sudah jelas sekali menolak apa  yang
 dikatakan  orang  bahwa  jabariah  Islam  itu  mengajar  orang
 bertopang dagu dan enggan berusaha. Tuhan menciptakan maut dan
 hidup  untuk  menguji  manusia,  siapa  daripada  mereka  yang
 melakukan perbuatan baik. Perbuatan dalam dunia dan balasannya
 sesudah  mati.  Mereka  yang tidak berusaha, tidak berjuang di
 muka bumi ini, tidak mencari  nafkah  sebagai  karunia  Tuhan;
 kalau  mereka tidak mau menafkahkan harta mereka; kalau mereka
 tidak mau  mengutamakan  sahabatnya  meskipun  mereka  sendiri
 dalam kekurangan, mereka telah melanggar perintah Tuhan.
 
 Sebaliknya,  bilamana  semua  itu  mereka lakukan dengan baik,
 perbuatan mereka akan diterima baik oleh Allah dan  pada  hari
 kemudian  mendapat  pahala  dan  balasan yang baik. Tuhan akan
 menguji kita dalam hidup kita ini dengan yang  baik  dan  yang
 buruk  sebagai  suatu cobaan. Dengan otak kita, kita juga yang
 dapat  membedakan  mana  yang  baik  dan  mana   yang   buruk.
 Barangsiapa  berbuat  baik  seberat  atom pun akan dilihatnya,
 barangsiapa  berbuat  keburukan   seberat   atom   juga   akan
 dilihatnya. Kalau apa yang sudah menimpa kita itu bukan karena
 sudah ditentukan Tuhan terhadap diri kita,  niscaya  itu  akan
 membuat  kita  lebih  tekun  melakukan  kebaikan untuk melihat
 hasil yang baik pula. Sesudah itu sama saja buat kita:  adakah
 Tuhan  akan menjadikan kita manusia yang kuat, yang masih giat
 bekerja, atau akan dikembalikan ke usia yang sudah pikun, yang
 sudah  tidak  dapat  kita  ketahui lagi apa yang dulunya sudah
 pernah kita ketahui. Kriterium  atau  ukuran  hidup  seseorang
 bukanlah  dari  jumlah tahun yang sudah ditempuhnya, melainkan
 dari perbuatan-perbuatan  baik  apa  yang  sudah  dilakukannya
 selama  itu, dan yang akan menjadi peninggalannya. Mereka yang
 sudah meninggal di jalan Tuhan (dalam berbuat kebaikan), dalam
 pandangan  Tuhan  mereka  hidup,  di  tengah-tengah  kita juga
 kenangan mereka tetap  hidup.  Berapa  banyak  nama-nama  yang
 tetap  kekal selama berabad-abad karena orang-osrang itu telah
 mengabdikan diri dan  segala  daya  upayanya  untuk  kebaikan,
 mereka  itu  berada  di  tengah-tengah  kita yang masih hidup,
 sungguh pun mereka telah berpulang sejak  ratusan  tahun  yang
 lalu.
 
 "Apabila sudah tiba waktunya, mereka takkan dapat mengundurkan
 atau memajukannya barang sedikit pun juga."
 
 Inilah yang benar. Hanya ini yang sesuai  dengan  hukum  alam.
 Manusia   sudah   mempunyai  batas  waktu  yang  takkan  dapat
 dilampauinya. Sama halnya dengan  matahari  dan  bulan,  sudah
 mempunyai  waktu-waktu  gerhana  yang  tidak berubah-ubah, tak
 dapat dimajukan atau diundurkan. Waktu yang  sudah  ditentukan
 ini   lebih  mendorong  orang  untuk  berusaha  dan  melakukan
 perbuatan-perbuatan yang baik. Ia akan berusaha sekuat tenaga.
 
 Ia tidak tahu kapan ia akan menemui ajalnya. Bilamana ajal itu
 sampai  maka  balasannya  apa  yang  sudah  dikerjakannya.  Di
 hadapan kita setiap hari sudah ada  buktinya  bahwa  ajal  itu
 takdir  yang  tak  dapat dielakkan. Ada orang yang mati dengan
 tiba-tiba dan orang tidak tahu apa sakitnya.  Ada  orang  yang
 sakit,  yang  sudah  sekian puluh tahun menderita dan merintih
 melawan  penyakitnya  itu  sampai  ia  tua  serta  sudah   tak
 bertenaga  lagi.  Dari kalangan kedokteran dewasa ini ada yang
 berpendapat  bahwa  manusia  itu   dilahirkan   dalam   proses
 pembentukannya sudah ada benih yang menentukan hidupnya. Jarak
 waktu  yang  akan  ditempuh  oleh  benih  itu  untuk  mencapai
 tujuannya   yang  terakhir  dapat  pula  diketahui  asal  saja
 benihnya sendiri dapat kita ketahui. Tetapi  untuk  mengetahui
 benih  ini  bukan  soal yang begitu mudah. Adakalanya ia dalam
 bentuk fisik, tersembunyi dalam salah satu bagian dalam  tubuh
 -  bagian  yang  penting atau tidak penting - adakalanya dalam
 bentuk  psychis   dalam   pikiran   kita,   bertalian   dengan
 lapisan-lapisan   otak   yang   akan   mendorong   pihak  yang
 bersangkutan hidup berpetualang  dan  mau  menghadapi  bahaya,
 atau sebagai pemberani. Allah mengetahui belaka semua itu. Dia
 yang mengetahui saat kematian setiap manusia  itu  akan  tiba,
 menurut hukum alam, tanpa dapat diubah dan ditukar-tukar.

 Sebagai  tanda  kasih  sayang Tuhan, Ia tidak akan menjatuhkan
 siksaan sebelum mengutus seorang rasul  yang  akan  memberikan
 bimbingan   kepada  manusia  dalam  mencapai  Kebenaran  serta
 menjelaskan  pula  jalan  kebaikan  yang  harus   ditempuhnya.
 Sekiranya Tuhan akan menghukum manusia karena perbuatan mereka
 yang salah, niscaya takkan ada makhluk hidup di muka bumi  ini
 yang  akan ketinggalan. Tuhan menunda mereka sampai pada waktu
 tertentu sampai mereka dapat  mendengarkan  dan  mau  menerima
 ajakan  para rasul itu dan tidak sampai benar mereka terpesona
 oleh godaan hidup duniawi. Tuhan tidak mengutus para rasul itu
 dari   kalangan   raja-raja,   orang-orang  kaya,  orang-orang
 berpangkat atau dari  kalangan  orang  cerdik  pandai.  Mereka
 diutus  dari kalangan rakyat jelata. Nabi Ibrahim tukang kayu,
 ayahnya  pun  tukang  kayu.  Nabi  Isa  juga  tukang  kayu  di
 Nazareth.  Juga  tidak sedikit dari nabi-nabi itu yang tadinya
 penggembala   kambing,   termasuk   Nabi   penutup    Muhammad
 'alaihissalam.  Tuhan  mengutus  para rasul dari rakyat jelata
 itu untuk memperlihatkan bahwa  Kebenaran  itu  bukan  menjadi
 milik  orang-orang  kaya atau orang-orang kuat melainkan milik
 orang yang mencari Kebenaran demi kebenaran semata.  Kebenaran
 yang azali, yang abadi, ialah orang yang baru sempurna imannya
 apabila ia sudah dapat mencintai saudaranya seperti  mencintai
 dirinya sendiri.
                                     (bersambung ke bagian 3/6)
 
Just select text on the page and get instant translation from Google Translate!
Google Translate Client