Selamat Datang Di Emye Private Blog
Membaca, mendengar, dan menterjemahkan Al Qur'an
Sedikit Bigraphy Singkat tentang Aku.
Title

Bapakku

Bapakku yang Sangat Tegas Akan Sesuatu yang Dia Anggap Fundamental, Berprinsip Kuat. Sangat Religius. Jawa Banyumasan. Gualakeee Poll, hehehe...

Read More
Title

Ibuku

Ibuku.., Seorang Wanita yang Sangat Kuat, Tegar dan Banyak Akal. Bisa Menjadi Seorang Ibu Sekaligus "seorang ayah" Juga. Smart dalam bertahan hidup, Sabar di Keseharian, Walau Galak Tapi Pemaaf... Saluut Untukmu Mah...!

Read More
Title

Aku Yang...

Inilah Yang Dulu Selalu Mencari Masalah, dan Terkena Masalah dan Hampir Terkubur Karenanya.. Berharap Maaf dariNYA, Kedua Orangtuaku dan Juga Kalian Semua.. Do'akan RidhoNYA Untukku ya.. Terimakasih Untuk Kalian Semua...

Read More
Title

Rumahku Hidupku..No Place Like Home

Di Sinilah Awal Semua Kisahku.., Di Awali Dengan Kasih Sayang dan Pengharapan dan Di Jalani Dengan Kegilaan lalu Berakhir dengan Keterpurukan. No More Fly..No More Sky and No More Cry...

Read More
Title

Seberkas CahayaNYA...

Menunggu dan Berharap Banyak dariNYA... Jawaban dan Ampunan Setelah Doa-doa yang Kutambatkan.. Setiap Detik, Setiap Saat Sebelum Saat Akhir Hidupku Tiba...

Read More
Title

Pikirkan Dulu!

Pikirkan dan Pertimbangkan Semua Pilihan. Karena Kau Harus Memilih, Gunakan Kata Hatimu. Ambil Apa Yang Baik Dari Kisahku Kawan.. Semua Hikmah. Sekarang atau Tidak Sama Sekali..!!!?

Read More
Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts
Showing posts with label Dunia Islam. Show all posts

Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha 6 November | Rabu, 19 Oktober 2011 14:08

October 26, 2011 Comments: (0)

foto 
Muhammadiyah

Perayaan Idul Adha atau Hari Raya Kurban 10 Dzulhijjah 1432 Hijriyah kali ini kemungkinan tidak akan bersamaan. Ini setelah Muhammadiyah menetapkan 1 Dzulhijjah akan jatuh pada hari Jumat, 28 Oktober 2011.

"Artinya 10 Dzulhijjah jatuh pada 10 hari berikutnya atau pada hari Ahad, 6 November 2011," kata Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Nadjib Hamid, Rabu siang, 19 Oktober 2011.

Menurut Nadjib, berdasarkan perhitungan sistem hisab haqiqi PW Muhammadiyah Jawa Timur yang digelar di markasnya di Tanjung Kodok, Lamongan, ijtima akhir bulan Dzulqa'dah 1432 Hijriyah terjadi pada hari Kamis, 27 Oktober, bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa'dah antara pukul 02.56 sampai pukul 02.57.

Ini bisa diartikan pada hari itu matahari diprediksi akan terbenam tepat pukul 17.24'38 WIB dan hilal sudah berwujud di ketinggian 06 derajat 45 menit sampai dengan 06 derajat 55 menit. Sehingga keesokan harinya sudah memasuki bulan Dzulhijjah. "Insya Allah, kalau semuanya menggunakan sistem ini, Idul Adha akan berbarengan," imbuh Nadjib.

Secara terpisah, Katib Syuriah Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Kiai Abdurrahman Nafis mengatakan, hingga kini PWNU belum bisa memutuskan hari pelaksanaan Idul Kurban.

"Kita tidak bisa sekarang. Harus melakukan rukyatul hilal (melihat hilal/bulan) dulu," kata Nafis. Melihat hilal, setidaknya akan digelar PWNU pada hari Kamis, 27 Oktober nanti.

Sama seperti biasanya, rukyatul hilal akan digelar di 13 lokasi di Jawa Timur, semisal di Tanjung Kodok, Menara Masjid Al-Akbar Surabaya, Pantai Kenjeran Surabaya, Bukit Condro Dipo Gresik, serta beberapa lokasi lainnya.

Nafis menambahkan, melihat perbedaan penetapan Idul Fitri lalu, penetapan Idul Adha kemungkinan besar tidak akan bersamaan. Apalagi, menurut perhitungan hisab haqiqi yang dilakukan PWNU, dalam tiga tahun ini pelaksanaan, baik Idul Fitri maupun Idul Adha tidak akan sama. Ini lantaran penampakan hilal dalam tiga tahun terakhir sangat tipis sehingga susah untuk diintip.

FATKHURROHMAN TAUFIQ

Hati-hati! Program Mobil Pintar diselewengkan untuk kristenisasi

October 21, 2011 Comments: (0)
Rasul Arasy
BEKASI (Arrahmah.com) – Program Mobil Pintar yang digagas Ibu Negara Ani Yudhoyono dan istri para menteri negara ternyata diselewengkan oleh oknum misionaris untuk melakukan kristenisasi di SD Negeri dan SD Islam Bekasi. Terkait hal tersebut Pemerintah harus mengusut tuntas oknum misionaris yang mencoreng dunia pendidikan dengan isu SARA.
Sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan dalam mencerdaskan bangsa, Ibu Ani Yudhoyono dan para istri menteri Kabinet Indonesia Bersatu membentuk SIKIP (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu).
Tiga program andalan SIKIP untuk mencerdaskan bangsa adalah Mobil Pintar, Motor Pintar dan Rumah Pintar yang digagas oleh Ibu Ani Yudhoyono. Tiga program ini mengacu pada UU No. 43 th 2007 tentang Kebijakan PKM, yaitu Pembudayaan Kegemaran Membaca (PKM) dilakukan melalui Keluarga, Satdik dan Masyarakat, antara lain: pertama, Keluarga, difasilitasi Pemerintah dan Pemerintah Daerah melalui buku murah dan berkualitas, Kedua, Satdik, dengan mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai proses pembelajaran, dan ketiga: Masyarakat, penyediaan sarana perpustakaan di tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan bermutu.
Dalam situs resminya disebutkan misi dan visi Mobil Pintar adalah sebagai sumber belajar dan program pembelajaran multi fungsi. Sumber belajar dalam Mobil Pintar meliputi buku bacaan yang 85% untuk anak-anak, CD interaktif, arena panggung dan perangkat komputer jenis laptop serta arena permainan edukatif. Program pelayanan pendidikan ini diberikan secara gratis. Setiap pembelajaran dimulai dengan jingle Mobil Pintar.
Namun, sayangnya, dalam praktiknya di Bekasi, program Mobil Pintar tersebut disalah gunakan oleh para misionaris   untuk melakukan kristenisasi. Fakta-fakta adanya kristenisasi terungkap dalam insiden di SD Negeri Mangunjaya 01 & 05 pada Kamis (6/10/2011), dan di SD Islam Al-Hikmah pada Kamis, (13/10/2011).
Mulanya, pada hari Jum’at (30/9), Lina, aktivis yang mengaku dari Mobil Pintar mendatangi kepala sekolah SDN Mangunjaya 05, menawarkan program edukasi dan movitasi cuma-cuma kepada siswa. Lina menjamin bahwa tak ada misi agama apapun dalam program tersebut.
“Mereka datang ke sini menawarkan program edukasi. Pihak sekolah bertanya, ‘Ini ada misi tidak?’ Mereka menegaskan bahwa tidak ada misi apapun. ‘Kami tidak membawa misi apapun. Kami adalah Mobil Pintar yang jelas-jelas mencerdaskan generasi Indonesia untuk berpikir kritis dan melakukan perubahan di Indonesia,’” papar Rahma, guru kelas 3 seperti yang dikutip voa-Islam.com, pada Kamis (13/10).
Setelah disepakati, maka pada hari Kamis, (6/10) lima belas orang Tim Mobil Pintar menggelar acara edukasi di SDN Mangunjaya 05. Rombongan ini datang dalam tiga mobil, antara lain: Mobil Pintar minibus B 7004 KJA, mobil Elf B 7001 KDA dan sedan B 2947 VP.
Rahma mengungkapkan Tim Mobil Pintar tersebut minta guru-guru SD keluar ruangan, lalu menutup pintu. Mereka tidak mau ada guru yang mendampingi siswa-siswi di kelas.
Tepat jam 11.00, giliran ke kelas 3 yang akan dimasuki Tim Mobil Pintar. Sebagai guru kelas, Rahma menanyakan detil acara yang akan dilangsungkan. Berta, seorang petugas dari Mobil Pintar menjawab bahwa acaranya hanya sekedar motivasi. Rahma pun minta agar dirinya mendampingi murid-muridnya dalam acara tersebut, tapi Berta ngotot tidak mau didampingi guru SD.
“Sebagai guru saya harus mendampingi murid-murid saya. Pokoknya saya harus tahu, saya harus di ruangan,” tegasnya.
Karena dalam pemaparan Berta mengarahkan ke doktrin Kristen, maka dengan tegas Rahma minta agar acara dihentikan. “Konsep agama dia beda dengan ajaran Islam tentang taubat, istigfar dan amal shalih,” jelas Rahma.
Berta terus saja menjelaskan bahwa setiap orang punya dosa dan tidak bisa membersihkan diri dari dosa kecuali dengan air kehidupan.
“Diri kalian akan berubah menjadi sesuatu yang baru apabila di dalam darah kalian mengalir air kehidupan,” ujar Rahma menirukan.
Sejurus kemudian Berta minta anak-anak angkat tangan ke depan dan menuntut untuk berbaiat, “Saya berjanji untuk berubah dengan air kehidupan.”
Rahma pun hilang kesabaran, spontan berteriak, “Ini pembaptisan!”
Ia bereaksi keras menolak. Maka seluruh acara distop. Berta dan teman-temannya marah dan protes.
“Ibu, kami akui kami semuanya Kristen, tapi acara ini sama sekali tidak ke arah itu. Ibu menuduh kami!”
Rahma balik membentak, “Tapi arah ke situ kami sudah tahu. Kalian bisa membodohi dan membohongi murid-murid kami, tapi kami tidak. Kami dari pihak sekolah memutuskan stop acara ini!” ketusnya.
Bahkan para misionaris mengambil tas milik siswa dan ditukar dengan tas bercorak Kristen.
“Tas anak-anak diambil, diganti dengan tas label-label Kristen yang di dalamnya ada salib,” ujar Rahma.

Tas yang dibagikan kepada siswa-siswi itu bertuliskan ayat Alkitab (Bibel): “Tuhanlah yang memberikan Hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Hikmat dan pengertian ada padaku” (Amsal 2:6).
Dari insiden tersebut, Rahma berharap agar pemerintah mengusut dan menindak tegas oknum misionaris yang memperalat Mobil Pintar sebagai alat pemurtadan.
“Anggota DPRD komisi D dan Ketua Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi sudah berjanji akan melakukan investigasi langsung ke sini, tapi sampai sekarang sudah sepekan, belum ada kabar lagi,” pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Muhammad Faisal MMPd, Praktisi Pendidikan Luar Sekolah (PLS), menyayangkan insiden bernuansa SARA yang mencoreng dunia pendidikan yang dimotori Ibu Negara Ani Yudhoyono tersebut. Menurutnya, pemurtadan di kalangan sekolah adalah pembodohan terhadap umat Islam yang harus diperangi.
“Bila ditunggangi misi Kristenisasi, maka Mobil Pintar itu tidak mencerdaskan, tapi justru membodohi umat,” ujarnya seperti yang dikutip voa-islam.com, Jum’at (14/10/2011).
Misi terselubung dalam Mobil Pintar di SD Bekasi merupakan bentuk penyimpangan yang harus diusut tuntas oleh pemerintah, karena mencoreng nama Ibu Negara sebagai pemrakarsa program tersebut.
“Seharusnya, sebagai perpustakaan berjalan, Mobil Pintar itu harus menyediakan aneka buku bacaan untuk rakyat. Anehnya, Mobil Pintar di Bekasi ini berisi roti, susu dan alat tulis bercorak Kristen yang disinyalir untuk program kristenisasi terselubung. Ini memalukan dunia pendidikan,” kecam Faisal yang juga Pembina Gerakan Pelajar Anti Pemurtadan Bekasi (GPAPB) itu.
“Usut tuntas penyalahgunakan Mobil Pintar ini. Secara tidak langsung, oknum-oknum ini mencatut Ibu Ani Yudhoyono,” tandasnya.
Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Bekasi, Bernard Abdul Jabbar mengecam keras misi Kristen yang dipaksakan ke dunia pendidikan secara licik tersebut. Ia mengungkapkan pemanfaatan fasilitas negara untuk misi kristenisasi adalah gaya baru pemurtadan untuk mengejar target menjadikan Indonesia 50 persen Kristen.
“Kristenisasi yang dilakukan terhadap SD Negeri dan SD Islam di Mangunjaya Tambun Bekasi ini adalah modus baru. Misi terselubung yang mempergunakan fasilitas negara ini mereka lakukan untuk mengejar program jangka panjang limapuluh tahunan. Mendekati tahun 2020 ini mereka ingin mengkristenkan Indonesia dengan menargetkan 50 persen Kristen,” ujarnya di kantor Dewan Dakwah Bekasi, Kamis malam (13/10).
Bernard mengimbau para guru baik guru SD Negeri maupun guru SD Islam agar meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga akidah anak didiknya. Selain itu, sgar insiden SARA di dunia pendidikan ini tidak terulang, Bernard mendesak pemerintah untuk menangkap dan mengusut tuntas para misionaris tersebut. (voaI/arrahmah.com)

Pencegahan Penyakit di Masa Khilafah

Comments: (0)

Oleh: Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar

304041_10150328357070658_175817530657_8616315_1090838191_n.jpg (500×341)Siapapun tahu, bahwa pada masa sekarang ini, biaya kesehatan sangat mahal. Bila orang terlanjur sakit, maka membuatnya kembali sehat, apalagi harus diberi tindakan medis (operasi misalnya), atau setidaknya harus dirawat-inap di rumah sakit, bisa meludeskan uang yang telah ditabung bertahun-tahun. Walhasil, seratus juta lebih rakyat miskin di negeri ini dilarang sakit.

Menurut seorang pakar instrumentasi kesehatan, biaya medis yang tinggi itu 60 persen baru untuk mengetahui penyakitnya, yaitu berupa peralatan canggih seperti sinar roentgen, CT-scan atau berbagai alat lab untuk uji darah. Baru 40 persennya untuk terapi. Yang mengerikan, banyak alat-alat tersebut sudah lama tidak dikalibrasi, sehingga boleh jadi banyak orang yang divonis sakit padahal sehat, juga sebaliknya, dinyatakan sehat padahal sakit, atau bahkan dianggap sakit A, padahal sebenarnya sakit B.

Karena itu sangatlah wajar, bila orang lalu lari kepada pencegahan. Bagaimanapun mencegah penyakit lebih murah dari mengobati. Gerakan “hidup sehat ala Nabi” menjadi trendy. Rasulullah memang banyak memberi contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencegah penyakit. Misalnya: menjaga kebersihan; makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang; lebih banyak makan buah (saat itu buah paling tersedia di Madinah adalah rutab atau kurma segar); mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air dan sepertiga udara; kebiasaan puasa Senin-Kamis; mengonsumsi madu, susu kambing atau habatus saudah, dan sebagainya.

Bagi yang terlanjur sakit dan mencari pengobatan yang lebih murah, juga tersedia “berobat cara Nabi” alias Thibbun Nabawi, yang obatnya didominasi madu, habatus saudah dan beberapa jenis herbal. Kadang ditambah bekam dan ruqyah. Pengobatan ini jauh lebih murah karena praktisinya cukup ikut kursus singkat, tidak harus kuliah di fakultas kedokteran bertahun-tahun. Profesi thabib atau hijamah ini juga relatif belum diatur, belum ada kode etik dan asosiasi profesi yang mengawasinya, sehingga tidak perlu biaya tinggi khas kapitalisme.

Namun sebagian aktivis gerakan ini dalam perjalanannya terlalu bersemangat, sehingga lalu bertendensi menolak ilmu kedokteran modern, seakan “bukan cara Nabi”. Realitas pelayanan kesehatan modern yang saat ini sangat kapitalistik menjadi alasan untuk menuduh seluruh ilmu kedokteran modern ini sudah terkontaminasi oleh pandangan hidup Barat, sehingga harus ditolak.

Salah satu contoh adalah gerakan menolak vaksinasi. Sambil mengutip data dampak negatif vaksinasi dari media populer Barat (yang sebenarnya kontroversial), dengan amat semangat, gerakan ini menyatakan bahwa “di masa khilafah tanpa vaksinasi juga manusia tetap sehat” atau “sebelum ada vaksinasi, tidak ada penyakit-penyakit ganas seperti kanker”.

Tentu menjadi menarik untuk melihat seperti apa pencegahan penyakit di masa Khilafah itu?

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa vaksinasi memang sebuah teknologi dalam ilmu kedokteran yang baru ditemukan oleh Edward Jenner pada akhir abad-18 dan dipopulerkan awal abad-19. Vaksin penemuan Jenner ini berhasil melenyapkan penyakit cacar (small pox) - bukan cacar air (varicella). Pada abad-19, penyakit cacar ini membunuh jutaan manusia setiap tahun, termasuk rakyat Daulah Khilafah! Namun saat itu Daulah Khilafah sudah dalam masa kemundurannya. Andaikata Daulah Khilafah masih jaya, barangkali teknik vaksinasi justru ditemukan oleh kaum Muslimin.

Dalilnya adalah Rasulullah menunjukkan persetujuannya pada beberapa teknik pengobatan yang dikenal semasa hidupnya, seperti bekam atau meminumkan air kencing onta pada sekelompok orang Badui yang menderita demam. Lalu ada hadits di mana Rasulullah bersabda, “Antum a’lamu umuri dunyakum” - Kalian lebih tahu urusan dunia kalian. Hadits ini sekalipun munculnya terkait dengan teknik pertanian, namun dipahami oleh generasi Muslim terdahulu juga berlaku untuk teknik pengobatan. Itulah mengapa beberapa abad kaum Muslim memimpin dunia di bidang kedokteran, baik secara kuratif maupun preventif, baik di teknologinya maupun manajemennya.

Muhammad ibn Zakariya ar Razi (865-925 M) menemukan kemoterapi. Sekitar tahun 1000 M, Ammar ibn Ali al-Mawsili menemukan jarum hypodermik, yang dengannya dia dapat melakukan operasi bedah katarak pada mata! Pada kurun waktu yang sama, Abu al-Qasim az-Zahrawi mengembangkan berbagai jenis anastesi dan alat-alat bedah, yang dengannya antara lain dapat dilakukan operasi curette untuk wanita yang janinnya mati.

Pada abad-11 Ibnu Sina menerbitkan bukunya Qanun fit-Thib, sebuah ensiklopedia pengobatan yang menjadi standar kedokteran dunia hingga abad 18. Di dalam kitab itu juga ditemukan saran Ibnu Sina untuk mengatasi kanker, yakni “pisahkan dari jaringan yang sehat, potong dan angkat”. Jadi 1000 tahun yang lalu, jauh sebelum ada vaksinasi, sudah ada penyakit kanker! Karena penyakit ini memang sudah ditemui sejak Hipokrates, dokter Yunani Kuno. Jadi tidak benar tuduhan bahwa kanker disebabkan oleh vaksinasi.

Semua penemuan teknologi ini tentunya hanya akan berhasil diaplikasikan bila masyarakat semakin sadar hidup sehat, pemerintah membangun fasilitas umum pencegah penyakit dan juga fasilitas pengobatan bagi yang telanjur sakit. Kemudian para tenaga kesehatan juga orang-orang yang profesional dan memiliki integritas, bukan orang-orang dengan pendidikan asal-asalan serta bermental pedagang.

Menarik untuk mencatat bahwa di daulah Islam, pada tahun 800-an Masehi, madrasah sebagai sekolah rakyat praktis sudah terdapat di mana-mana. Tak heran bahwa kemudian tingkat pemahaman masyarakat tentang kesehatan pada waktu itu sudah sangat baik.

Pada kurun abad 9-10 M, Qusta ibn Luqa, ar Razi, Ibn al Jazzar dan al Masihi membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, yang di perkotaan padat penduduk akan berakibat kota yang kumuh. Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan.

Tenaga kesehatan secara teratur diuji kompetensinya. Dokter khalifah menguji setiap tabib agar mereka hanya mengobati sesuai pendidikan atau keahliannya. Mereka harus diperankan sebagai konsultan kesehatan, dan bukan orang yang sok mampu mengatasi segala penyakit.

Pada abad-9, Ishaq bin Ali Rahawi menulis kitab Adab at-Tabib, yang untuk pertama kalinya ditujukan untuk kode etik kedokteran. Ada 20 bab di dalam buku itu, di antaranya merekomendasikan agar ada peer-review atas setiap pendapat baru di dunia kedokteran. Meskipun madu atau habatussaudah sudah direkomendasikan sebagai obat oleh Rasulullah, tetapi dosis yang tepat untuk penyakit-penyakit tertentu tetap harus diteliti.

Lalu kalau ada pasien yang meninggal, maka catatan medis sang dokter akan diperiksa oleh suatu dewan dokter untuk menguji apakah yang dilakukannya sudah sesuai standar layanan medik. Hal-hal semacam ini yang sekarang justru masih absen di kalangan penggiat Thibbun Nabawi.

Ini adalah sisi hulu untuk mencegah penyakit, sehingga beban sisi hilir dalam pengobatan jauh lebih ringan. Meski demikian, negara membangun banyak rumah sakit di hampir semua kota di Daulah Khilafah.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa kaum Muslim terdahulu memahami bahwa sehat tidak hanya urusan dokter, tetapi pertama-tama adalah urusan masing-masing, walaupun juga tidak direduksi hanya sekedar pada kebiasaan mengonsumsi madu atau habatus saudah. Ada sinergi yang luar biasa antara negara yang memfasilitasi manajemen kesehatan yang terpadu dan sekelompok ilmuwan Muslim yang memikul tanggung jawab mengembangkan teknologi.

Andaikata khilafah kembali tegak, maka pencegahan penyakit tidak hanya sekedar urusan vaksinasi, tetapi khilafah juga tidak menafikan keberadaan vaksinasi karena ini adalah produk teknologi seperti teknologi lain yang dikembangkan ilmuwan Muslim terdahulu.

Muammar Gaddafi, Musailamah Abad Ini

Comments: (0)

Oleh, Ustadz Fuad Al Hazimi

Malam ini media massa dunia dikejutkan dengan tewasnya Mu'ammar Gaddafi, penguasa thaghut yang sangat kejam menindas para aktifis harakah Islam di Libya. Semoga kematiannya menjadi ibroh bagi para penguasa penentang Syari'ah Allah lainnya.

Orang Arab mengatakan :

لكل ملك علامات فلما علا ...... مات

"ٍSetiap raja (pemimpin) memiliki simbol-simbol kebesaran, ketika ia sudah sampai pada puncak kesewenang-wenangannya, maka matilah ia"

Tulisan ini saya nukil dan saya terjemahkan dari buku karya Syaikh Mujahid Abdurrahman Hasan yang berjudul "Qaddafy Musailamah al Ashr : Qaddafy, Musailamah Modern" dengan pengantar dari Syaikh Mujahid Abu Mundzir As Saidy Amir Jama'ah Jihadyah Libya :

Berikut beberapa penyimpangan dari sang Musailamah Modern

1. Tentang Haji tahun 1400 H
“Haji tahun 1400 H ini hanya merupakan permainan tepuk tangan dan siulan belaka sebagaimana pada zaman jahiliyyah. Karena itu, apa artinya haji tahun ini dan juga tahun-tahun selanjutnya jika pendudukan Amerika masih terus berlanjut di Baitullah Masjidil Haram ? (Khutbah Iedul Adha di kota Jadu 19 Oktober 1990)

2. Tentang Ka’bah
“Ka’bah adalah berhala terakhir yang masih tersisa di antara berhala-berhala lainnya” (Pembukaan Majlis Ittihad Al Jami’at Al Arobiyyah di kota Benghazi 18 Februari 1990)

3. Tentang Melontar Jumrah
Kalian semua melontar jamarat ? Yang wajib saat ini bagi kalian adalah melempar Zionis yahudi di Palestina. Setiap seorang dari kita membawa tujuh batu lalu pergi ke Palestina dan melempar para Zionis itu. Inilah Jihad sesungguhnya, inilah melontar Jamarat yang sebenarnya. Apa artinya melontar tujuh batu ke arah sebuah tonggak ? Inilah ganti dari melontar Jamarat, inilah Haji yang sebenarnya di zaman ini”. (Pembukaan Muktamar II Qiyadah Sya’biyyah Al Alamiyyah di kota Benghazi Trablus 19 Maret 1990)

4. Tentang Hijab
Hawa telanjang bulat tanpa sehelai benang. Siapa yang lebih tahu dibandingkan Allah ? Allah menciptakan kita sejak awal seperti itu. Inilah fithrah kita. Kalau bukan karena setan, kita tidak memakai sehelai benang pun, bahkan meskipun sehelai daun blueberry (waraqah tuut). Setan lah yang menyebabkan kita harus memakai pakaian seperti ini. Sedangkan sebelum itu, secara naluriah kita ini telanjang. Hijab sendiri adalah hasil perbuatan setan karena hijab adalah bentuk lain dari daun blueberry, dan ini adalah hasil karya setan untuk mencegah kita dari kemerdekaan dan melangkah ke depan …. Tidak mungkin bagi wanita harus mengenakan hijab dan tinggal di rumah saja. … haram…… hijab adalah hijab maknawi”. (Pidato di depan Parlemen Tunis 8 Desember 1988)

5. Tentang Khulafaur Rasyidin
Rasulullah Shollallohu 'alaihi wa Sallam berlepas diri dari para Khalifah sepeninggal beliau. Ali menjadi Khalifah, tetapi mengapa ia diperangi oleh setengah dari kaum muslimin ? anak cucunya juga diperangi. Utsman tidak pantas sebagai Khalifah karena ia seorang aristokrat dan mengangkat kerabatnya sebagai pembantu-pembantunya. Ia telah menyebarkan nepotism ke seantero wilayah Islam sehingga ia dibunuh… “. (Multaqo II Universitas dan Ma’had Aly di Trablus 30 Maret 1991)

6. Tentang Riba
“Sistem ekonomi adalah sistem yang sudah mendunia. Dunia Islam seluruhnya menerapkan sistem ini. Jika mereka semua menerapkannya, maka kita juga. Siapa yang bilang haram ? Tidak haram. Tidak benar bahwa sistem ekonomi dunia saat ini adalah haram”. (Muktamar Wartawan se-dunia, 13 Juni 1973. Ini adalah jawaban atas pertanyaan seorang wartawan Reuter cabang Mesir tentang riba)

7. Tentang Hadits Nabi Shollallohu 'alaihi wa Sallam (bukti bahwa Qaddafi adalah penganut Madzhab Ingkarus Sunnah)
”Jika ada seseorang berkata kepada kita : ”Hadits Rasulullah Shollallohu 'alaihi wa Sallam harus kita muliakan dan kita hormati serta wajib disikapi sebagaimana kita bersikap terhadap Al Qur’an, INI ADALAH SYIRIK !!!! Mungkin ucapan saya ini kedengaran asing. Ini disebabkan saat ini kita sudah sangat jauh dari Islam, dan kita sedang berada di tengah jalan menuju penyembahan berhala dan menjauhkan kita dari Al Qur’an dan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka tidak ada jalan lain agar kita tidak terjerumus dalam penyembahan berhala dan penyimpangan yang sangat berbahaya kecuali dengan cara berpegang teguh kepada Al Qur’an saja dan beribadah kepada Allah semata”. (Ceramah pada acara Maulid Nabi di Masjid Maulawi Muhammad di kota Trablus 19 Februari 1978)

8. Tentang Syari’ah Islam
“…… oleh karena itu Syari’ah Islam seharusnya cukup disikapi sebagai sebuah Madzhab Fiqh yang disusun oleh seseorang. Kedudukannya sama dengan undang-undang Romawi atau undang-undang Napoleon atau undang-undang lainnya yang disusun oleh para ahli hukum Perancis, Italia atau dari kaum muslimin ………………….. Maka siapa saja yang mempelajari undang-undang Romawi pasti akan menyimpulkan bahwa para ulama Islam menyusun undang-undang yang sangat mirip dengan undang-undang Romawi, akan tetapi mereka tidak mau mengakuinya. Mereka menyatakan bahwa ini adalah Agama (syari’ah Islam)”. (Pertemuan ramah tamah dengan para huffadz Al Qur’an di kota Trablus 3 Juni 1978)

9. Tentang Pengakuannya Sebagai Nabi
Dalam sebuah wawancara dengan Mirella Bianco, seorang wartawati dari Italia yang bertanya kepadanya : “ Wahai Nabi Allah … apakah engkau juga menggembala kambing ?”. Qaddafi menjawab : “Ya, tentu…. Tidak ada satu Nabi pun yang tidak menggembala kambing”. (“Qaddafi : Messenger of Dessert” tulisan Mirella Bianco halaman 241)

Inilah Gaddafi yang sesungguhnya, maka tidak usah terkejut kalau sekarang ia mengatakan tidak perlu jihad Chechnya, Mindanao, Dagestan dan sebagainya sebagaimana dikutip dalam majalah Sabili.

Mungkin ada yang mengatakan itu kan pernyataan Gaddafi puluhan tahun yang lalu. Siapa tahu sekarang ia sudah berubah. Saya katakan, seseorang yang bertaubat dari kesesatan yang pernah dia ajarkan pasti akan mengoreksi pernyataannya yang sesat dan mengingatkan umat Islam agar jangan lagi mengikuti pendapatnya tersebut.

Sebagaimana dilakukan oleh Syaikh Abul Hasan Al Asy’ari yang telah bertaubat dari kesesatan Aqidah Asy’ariyyah yang beliau ajarkan dan menulis kitab Al Ibanah ‘an Ushulid Diyanah. Sedangkan Gaddafi, sampai saat ini pun kita bisa melihat bagaimana kesesatannya dan ia belum pernah menyatakan bertaubat atau mengakui kesalahan pendapatnya.
Thaa Siin Miim
Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah).
Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman.
SESUNGGUHNYA FIR'AUN TELAH BERBUAT SEWENANG-WENANG DI MUKA BUMI DAN MENJADIKAN PENDUDUKNYA BERPECAH BELAH, DENGAN MENINDAS SEGOLONGAN DARI MEREKA, MENYEMBELIH ANAK LAKI-LAKI MEREKA DAN MEMBIARKAN HIDUP ANAK-ANAK PEREMPUAN MEREKA SESUNGGUHNYA FIR'AUN TERMASUK ORANG-ORANG YANG BERBUAT KERUSAKAN.
Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)
Dan akan kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta tentaranya apa yang Selalu mereka khawatirkan dari mereka itu
(QS AL QASHASH 1 – 6)
Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,
Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.
DAN BERIKANLAH PERINGATAN KEPADA MANUSIA TERHADAP HARI (YANG PADA WAKTU ITU) DATANG AZAB KEPADA MEREKA, MAKA BERKATALAH ORANG-ORANG YANG ZALIM : "YA RABB KAMI, BERI TANGGUHLAH KAMI (KEMBALIKANLAH KAMI KE DUNIA) WALAUPUN DALAM WAKTU YANG SEDIKIT, NISCAYA KAMI AKAN MEMATUHI SERUAN ENGKAU DAN AKAN MENGIKUTI RASUL-RASUL". (KEPADA MEREKA DIKATAKAN): "BUKANKAH KAMU TELAH BERSUMPAH DAHULU (DI DUNIA) BAHWA SEKALI-KALI KAMU TIDAK AKAN BINASA?
Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana kami telah berbuat terhadap mereka dan telah kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan".
DAN SESUNGGUHNYA MEREKA TELAH MEMBUAT MAKAR YANG BESAR PADAHAL DI SISI ALLAH-LAH (BALASAN) MAKAR MEREKA ITU. DAN SESUNGGUHNYA MAKAR MEREKA ITU (AMAT BESAR) SEHINGGA GUNUNG-GUNUNG DAPAT LENYAP KARENANYA.
Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan.
(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan meraka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu.
Pakaian mereka adalah dari pelangkin (ter) dan muka mereka ditutup oleh api neraka,
Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.
(Al Quran) Ini adalah penjelasan yang Sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.
(QS IBRAHIM 42 - 52)

Wallohu Jalla wa 'Alaa a’lam

Walaupun sedikit tetapi inilah bukti betapa hebatnya Ukhuwah Islamiyah, akankah kita mengkhianati rakyat Gaza

October 20, 2011 Comments: (0)

oleh GeMa Pelajar Pembebasan Indonesia pada 05 November 2010 jam 6:54

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Rakyat Gaza, Palestina, kembali menunjukkan rasa ukhuwah dan solidaritasnya kepada rakyat dan bangsa Indonesia yang terus dilanda bencana, khususnya bencana tsunami di Mentawai dan letusan gunung Merapi di Yogyakarta. Rakyat Gaza menyumbang masing-masing sebesar dua ribu dolar AS untuk korban tsunami dan letusan gunung Merapi.

Ziad Said Mahmud asal Gaza, kordinator bantuan kemanusiaan internasional Palestina dan juga Direktur Al-Sarraa Foundation menjelaskan, sumbangan untuk korban bencana di Indonesia merupakan hasil keputusan musyawarah antara ulama dan rakyat Palestina, baik yang ada di Jalur Gaza maupun di Suriah. Demkian ujar Ziad dalam siaran pers yang diterima Republika di Jakarta, Ahad (31/10).

Lebih lanjut, Ziad menjelaskan, “Kami tahu, jumlah ini tidak seberapa dibandingkan kesusahan yang sedang dialami saudara-saudara kami di Mentawai dan Merapi. Tapi terimalah ini sebagai tanda cinta kami. Kita satu tubuh. Kalian sakit, kami ikut sakit, sebagaimana kalian merasa sakit ketika melihat kami sakit dan menderita karena dijajah Israel,”

Bantuan untuk korban Tsunami di Mentawai sebesar 2 ribu dolar disampaikan lewat Ustadz Ferry Nur, Ketua KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina), sedangkan bantuan untuk korban letusan Gunung Merapi juga sebesar 2 ribu dolar disampaikan lewat Amirul Iman, Direktur Operasional Sahabat Al-Aqsha.

''Insya Allah, bantuan dari rakyat Gaza, Palestina akan kami sampaikan kepada mereka yang berhak secara langsung dan saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kepeduliannya kepada rakyat dan bangsa Indonesia,'' ujar Ustad Ferry Nur.

Beberapa kali rakyat Gaza memberikan sumbangan untuk korban bencana di Indonesia. Sebelumnya pada 2006, rakyat Gaza juga memberikan sumbangan sebesar Rp 5 juta bagi korban gempa di Yogyakarta dan Klaten, Jawa tengah.

Begitu pula saat gempa bumi tektonik berkekuatan 7,6 skala richter di Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Padang, Sumatra Barat. Rakt Gaza tak lupa memberikan sumbangann yang diserahkan melalui pengurus KISPA.

"Mengapa Saudi Arabia Tidak Pakai Dinar Dirham "

Comments: (0)

oleh Ash Ivanov pada 14 November 2010 jam 10:19

Depok, 18 Oktober 2010
Mengapa Saudi Arabia Tidak Pakai Dinar Dirham

Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia Banyak yang suka bertanya: mengapa Pemerintah Saudi Arabia memakai uang riyal kertas, dan bukan Dinar dan Dirham? Ini sebagian jawabannya.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa Saudi Arabia memakai uang kertas riyal, dan bukan Dinar emas dan Dirham perak, kita perlu mengetahui posisi kerajaan ini. Pada mulanya wilayah Hijaz adalah bagian dari Daulah Utsmaniah yang, tentu saja, menggunakan Dinar emas dan Dirham perak sebagai mata uangnya. Pada pertengahan abad ke-18, sebuah amirat lokal, dipimpin oleh amirnya, Muhammad ibn Sa'ud (meninggal 1765), menguasai suatu desa yang kering dan miskin, Dariyah. Karena kegiatannya yang selalu membuat onar, dan mengganggu jamaah haji, kelompok Al Sa'ud terus-menerus dalam konflik dengan pemerintahan Utsmani.

Beberapa tahun kemudian, berkat bantuan seorang broker politik, Rashid Ridha namanya murid dari Muhammad Abduh, untuk memperkuat rong-rongan terhadap Istambul, anak cucu Ibn Sa'ud membangun aliansi dengan Pemerintah Kolonial Inggris. Aliansi ini terjadi pada masa Sa'ud bin Abdal Aziz, anak Abdal Aziz Ibn Sa'ud, cucu Muhammad ibn Sa'ud. Untuk perannya ini Ridha 'menerima imbalan 1,000 pound Mesir untuk mengirimkan sejumlah utusan ke provinsi Arab di [wilayah] Utsmani untuk memicu pemberontakan,' pada 1914.
Ketika itu Ridha juga telah mendirikan sebuah organisasi lain, Liga Arab (Al-jami'a al-arabiyya), dengan tujuan menciptakan 'persatuan antara Semenanjung Arabia dan provinsi-provinsi Arab di Kekaisaran Utsmani'. Agenda organisasi ini adalah pendirian 'Kekhalifahan (Konstitusional) Arab', suatu rencana yang tidak pernah terwujudkan. Yang lahir kemudian adalah Kerajaan Saudi Arabia.
Berkat kolaborasi antara Sa'ud bin Abdal 'Azziz - dengan legitimasi teologis dari Wahabbisme, atau ajaran Syekh Muhammad ibn Wahhab - dan pelindungnya Winston Churchil, PM Inggris ketika itu berdirilah kemudian sebuah kerajaan nasional di tanah Hijaz, pada 8 Januari 1926. Pada 1932 Tanah Hijaz, yang semula merupakan bagian dari Daulah Utsmani, oleh rezim yang baru ini secara resmi dinamai: Sa'udi Arabia! Inilah satu-satunya negara di dunia ini yang mendapat nama dari nama seseorang. Salah satu mata rantai awal pemberontakan ini sendiri, adalah Amir di Najd waktu itu, Abdullah Ibn Sa'ud, berhasil ditangkap dan akhirnya dipancung di depan istana Topkapi, di Istanbul, setelah diadili dan dinyatakan sebagai seorang zindiq, pada 1818.
Meninggalkan Muamalat
Sejak awal, Pemerintahan Saudi Arabia, merupakan sekutu kekuatan Kristen-Barat (semula Inggris, kemudian Amerika Serikat), dan menjadi semakin erat dengan ditemukannya minyak pada tahun 1950-an. Beroperasinya perusahaan minyak raksasa (Aramco = Arabian-American Oil Company) yang markas besarnya di Dahran, di tempat yang sama dengan Pangkalan Militer AS (berdiri 1946), di Hijaz, merupakan simbol dan sekaligus sumber kekuasaan Rezim Sa'ud sampai detik ini. Semakin hari kita ketahui Rezim Saud makin meninggalkan muamalat, dan mengislamisasi kapitalisme barat.
Raja Abdul Aziz bin Sa'ud, pendiri Saudi Arabia, berkuasa penuh mulai tahun 1926 sampai 1953. Pada mulanya, setelah memasuki Mekkah (8 Jumadil Ula 1343 H), beliau menolak berlakunya sistem uang kertas di wilayahnya, setelah memusnahkan uang kertas lira Turki sekuler yang beredar di Haramain. Pada masa dia memerintah jamaah haji dari penjuru dunia menggunakan belbagai jenis koin emas perak dari negerinya masing-masing. Namun koin dinar Hashimi dan real perak Austria - Maria Theresa, juga riyal perak Hijaz yang paling populer di sana.
Maka, pada tahun 1950-an, sempat populer di Amerika Serikat, anekdot kisah Raja Abdul Aziz yang selalu membawa harta kerajaan yang berupa koin emas-perak kemanapun dia pergi� bagaikan orang kolot dan primitif. Namun setelah dia wafat, penggantinya, Raja Sa'ud bin Abdul Aziz (1953-1964), bersikap lain. Sejak ia berkuasa, Pemerintah Kingdom of Saudi Arabian (KSA) mendirikan bank sentral yang bernama: Saudi Arabian Monetary Agency (SAMA) dan menerbitkan uang kertas riyal pada tahun 1961 melalui Dekrit Kerajaan 1.7. 1379 H, dalam pecahan 1 - 100 riyal.
Raja tergiur menerbitkan uang kertas karena lebih menguntungkan daripada mencetak koin-koin riyal perak. Ide uang kertas diambil dari keberhasilan SAMA atas penerbitan uang kertas receipt yang berlaku dalam uji coba pada musim haji sepanjang tahun 1953-1957. Dengan menerbitkan Haj Pilgrim Receipt dalam satuan riyal perak, SAMA mulai menarik semua jenis koin emas dan perak yang beredar di Haramain. Para jamaah haji dari luar negeri pun diwajibkan menukarkan koin emas perak yang mereka bawa. Setelah populer, kupon haji itu pun kemudian dinyatakan tidak berlaku lagi sejak Oktober 1963 dan finalnya tanggal 20 Maret 1964, diganti dengan uang kertas riyal.
Celakanya sejak saat itu, ONH atau BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) wajib dibayar dalam uang kertas dolar AS, bukan dengan uang kertas riyal! Sebab Kerajaan Saudi Arabia telah menyepakati pula berlakunya perjanjian Bretton Wood (1944), yang menyatakan bahwa dolar AS adalah satu-satunya mata uang yang berlaku untuk transaksi internasional. Segala transaksi dengan koin dinar Hashimi dan riyal perak (1 riyal = 4 dirham), termasuk koin real Maria Theresa di batalkan oleh negara. Maka umat Islam sedunia berduka atas dibrangusnya mata uang syar'i: dinar dirham.
Genaplah sudah makna hadis dengan lafal berikut: "Tak seorang pun manusia yang tidak memakan riba" yang diriwayatkan oleh Abu Daud, semoga Allah merahmatinya. Dinar dan Dirham diberangus sampai dua kali, pertama 1914 oleh Sultan-sultan boneka sisa Daulah Utsmani (Turki), dan kedua 1964 oleh KSA tersebut di atas. Tapi para ulama belum dapat mengambil kesimpulan dari terbitnya uang kertas riyal ini, tentang status halal-haramnya uang kertas. Sampai, akhirnya, diterbitkan fatwa tentang uang kertas, pada tahun 1984, yang menyatakan bahwa uang kertas adalah halal.
Begitulah, sejauh sejarah Islam dapat kita ketahui, fatwa Saudi Arabia yang menghalalkan uang kertas, satu-satunya fatwa resmi dari suatu pemerintahan ("Islam") di dunia ini. Tetapi, kisah ringkas sejarah ekonomi politik Saudi Arabia sebagaimana diuraikan di atas, kiranya cukup menjelaskan mengapa Saudi Arabia menggunakan riyal kertas, dan bukan Dinar emas dan Dirham perak.(http://www.wakalanusantara.com)

Hendropriyono klaim 'terorisme' tumbuh subur di habitat masyarakat 'fundamentalis' (?)

Comments: (0)
Rasul Arasy
Rabu, 19 Oktober 2011 15:26:32
Hits: 0
JAKARTA (Arrahmah.com) Bekas Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono mengklaim bahwa ideologi sebagai akar masalah ‘terorisme’ tumbuh subur di habitat masyarakat ‘fundamentalis’.
“Terutama masyarakat muslim yang bertafsir kafiriah, yakni masyarakat yang mengkafir-kafirkan orang lain, sensitif, gampang meledak-ledak, suka kekerasan,” ujarnya di Yogyakarta, Selasa (18/10/2011).
Terkait hal tersebut ia berharap Kepala BIN yang baru, Letnan Jenderal Marciano Norman, bisa menetralisasi habitat ‘terorisme’ di Indonesia.
Hendro berpendapat BIN seharusnya bisa memanfaatkan aparat teritorial untuk menetralkan habitat terorisme itu.
“Mudah-mudahan Marciano punya pemikiran seperti ini dan mungkin bisa lebih jauh karena selama ini kita sudah makan pelajaran yang mahal,” katanya.
Masyarakat ‘fundamentalis’ seperti apa yang dimaksud? Apakah ketika seorang Muslim mempelajari dan berjuang agar dapat menjalankan agamanya secara kaffah (Sempurna) seperti yang diperintahkan Allah Ta’ala merupakan standar ‘fundamentalisme’ dalam perspektif BIN? Sungguh lucu penempelan stigma ‘teroris’ yang hanya disematkan pada kaum Muslim.
Padahal banyak tindakan-tindakan teror lain yang bisa dikategorikan ‘terorisme’ dianggap sebagai ‘sebuah kejahatan kecil’ lantaran pelakunya bukan dari kalangan ‘pendukung jihad’. Seperti yang terjadi dalam peristiwa peledakan ATM di Bandung dan di Yogyakarta, yang jelas-jelas tindakan tersebut merupakan teror, namun karena dilakukan oleh kelompok anarko punk yang anti kapitalisme (bukan kelompok ‘jihadisme’) maka aksi teror tersebut hanya dicap sebagai kriminalitas.
Juga tentu saja peristiwa kerusuhan Ambon, dimana jelas-jelas kaum Muslimin dizolimi, tetapi pemerintah malah serta merta menutupi aktivitas terorisme yang dilakukan oleh kaum non muslim diambon. Wallohua’lam. (dbs/arrahmah.com)


Ini dia daftar 9 judul buku yang dilarang beredar karena dituduh membentuk pemikiran 'terorisme'

Comments: (0)

Rasul Arasy
Kamis, 20 Oktober 2011 15:26:16
Hits: 0
KARIMUN (Arrahmah.com) – Pengelola dan pengunjung sejumlah toko-toko buku di Tanjungbalai Karimun, Rabu (19/10/2011) sekitar pukul 14:30 WIB dikagetkan dengan kedatangan Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Karimun, Hanjaya Candra SH beserta beberapa orang anggotanya.
Tujuan kedatangan Hanjaya dan ‘kawan-kawan’ adalah untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait peredaran 9 judul buku terlarang di toko-toko buku. Sidak tersebut dilakukan di Toko Buku Salemba yang berlokasi di depan kantor Imigrasi, Kolong, TB Bintaro yang berada di samping Swalayan Indo A Yani, Jack Agency (depan BNI), dan TB Al Kautsar di Pasar Sri Karimun.
Hanjaya Candra SH, Kasi Intel Kejari Tanjungbalai Karimun kepada wartawan mengatakan ada 9 judul buku yang dicekal peredarannya di Indonesia termasuk di Kabupaten Karimun oleh Jaksa Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung RI. Hal tersebut dikarenakan isi buku tersebut dinilai beraliran ‘kekerasan’ dan menyimpang dari ajaran agama tertentu.
Bakan buku-buku tersebut dikhawatirkan cendrung membentuk pemikiran berpaham ‘terorisme’ bagi pembacanya.
“Ke sembilan judul buku tersebut dikhawatirkan membuat pembacanya terprovokasi mengikuti teori-teori yang dipaparkan,” kata Hanjaya Candra usai sidak.
Berikut adalah daftar Buku Dalam Pengawasan Kejari:
1. Tafsir Fi Zhilalil Quran Jilid 2 karangan Sayyid Quthb, Diterjemahkan oleh As’ad Yasin-Muahotob Hamzah, Terbitan Gema Insani Depok-Jakarta 2001.
2. Loyalitas dan Anti Loyalitas dalam Islam karangan Muhammad bin Sa’id Al Qathani diterjemahkan oleh Salahudin bin Abu Sayid terbitan PT Era Adi Citra Intermedia-Solo 2009.
3. Ikrar Perjuangan Islam karangan DR Najih Ibrahim diterjemahkan oleh Abu Ayub Ansyori terbitan Pustaka Al Alaq dan Al Qowam-Solo 2009
4. Khilafah Islamiyah-Suatu Realita bukan Khayalan karangan Prof DR Syeikh Yusuf Al Qaradawi diterjemahkan oleh Ahmad Nuryadi, terbitan PT Fikahati Aneka-Jakarta 2000.
5. Kado Istimewa untuk Sang Mujahid karangan Syakh Dr Abdullah Azzam, diterjemahkan oleh Abdul Fattan Al Bourie, terbitan PT Pustaka Al Alaq-Solo 2008.
6. Catatan dari Penjara – Untuk Mengamalkan dan Menegakan Dinul Islam karangan Abu Bakar Ba’asyir, terbitan Mushaf, Depok Jawa Barat, 2008.
7. Bagaimana Membangun Kembali Negara Khilafah karangan Syabab Hizbut Tahrir Inggris, diterjemahkan oleh M Ramdhan Adi, terbitan Pustaka Thariqul Izzah, Bogor 2008.
8. Syariat Islam-Solusi Universal karangan Prof Wahbah Az Zuhali, diterjemahkan oleh Ridwan Yahya LC, terbitan Pustaka Nawaitu, Jakarta Timur 2004.
9. Visi Politik Gerakan Jihad karangan Hazim Al Madanidan Abu Mus’ab As Suri, diterjemahkan oleh Luqman Hakim Lc dan Umarul Faruq Lc, terbitan Jazera, Solo 2010. (dbs/arrahmah.com)

Bukti Kekufuran Syi'ah Terhadap Al Qur'an

September 29, 2011 Comments: (0)
Bukti Kekufuran Syi'ah terhadap Al-Qur'an

Saif Al Battar

Ahad, 24 Juli 2011 21:52:49

Hits: 3295

Salah satu perbedaan yang tajam antara akidah Islam dan doktrin Syi’ah adalah cara pandang terhadap kitab suci Al-Qur’anul Karim.

Pandangan Islam Terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan rujukan pertama dalam memahami Islam. Keimanan kepada al-Qur’an merupakan salah satu rukun dari rukun iman yang enam. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini seyakin-yakinnya bahwa Al-Qur’an Al-Karim adalah Kalamullah yang terpelihara dari perubahan, penambahan atau pengurangan. Karena, Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs. Al-Hijr 9).

Ayat ini adalah jaminan dari Allah sendiri, bahwa kitab suci-Nya tidak akan mengalami pengurangan atau penambahan atau pun perubahan. Sebab, Allah  sendiri-lah yang akan langsung menjaganya. Allah  juga berfirman:

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang padanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Qs. Fushshilat 41-42).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah.

….Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi….

Pandangan Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

Syi’ah berkeyakinan bahwa tidak ada yang mengumpulkan Al-Qur’an dengan lengkap selain Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya. Mereka meyakini bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang bukanlah Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi karena telah dirubah dan dikurangi. Mereka meyakini adanya mushaf (kitab suci) yang disebut mushaf Fathimah. Mushaf ini adalah Al-Qur’an yang asli (belum mengalami perubahan) Yang tiga kali lebih tebal daripada Al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin saat ini, dan mushaf tersebut akan kembali hadir ke dunia dengan dibawa oleh Imam yang ke-12 yaitu Imam Mahdi.

Al-Kulaini, seorang ulama Syi’ah, meriwayatkan dalam Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah, dari Abu Bashir dari Abu Abdillah ia berkata:

?? ????? ????????? ?????????? ????????? (????? ??????) ?? ??? ??????????? ??? ???????? ????????? (????? ??????) ?????: ??????: ?? ??? ???????? ????????? (????? ??????) ????? ???????? ????? ?????? ??????????? ????? ??????? ???????? ?? ??????? ??? ????? ???? ??????????? ?????? ???????

“Sesungguhnya di sisi kami terdapat Mushaf Fathimah-‘alaihas salam-. Tahukah mereka apakah Mushaf Fathimah-‘alaihas salam- itu ?” Saya menjawab, “Apakah Mushaf Fathimah itu?” Dia berkata, “Di dalamnya terdapat seperti al-Qur’an kalian ini sebanyak tiga kalinya. Demi Allah, tidak ada di dalamnya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian”(Ushuul al-Kaafi bab al-Hujjah).

Kekufuran Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

kaum muslimin sejak zaman Nabi hingga kini telah ber-ijma’ bahwa al-Qur’an yang ada di tengah-tengah umat ini adalah Al-Qur’an yang asli sebagaimana diturunkan Allah  kepada Rasul-Nya. Tidak mengalami penambahan, pengurangan, ataupun perubahan. Tidak ada yang menyelisihi ijma’ ini kecuali Syi’ah.

Allah telah berfirman:

“Akan tetapi Allah bersaksi atas apa yang Dia turunkan kepadamu (yakni Al-Qur’an). Allah telah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan para malaikat-pun menjadi saksi (pula). Dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS. An-Nisa’ 166).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah . Maka tidak mungkin jika al-Qur’an yang telah disaksikan oleh Allah akan kebenarannya itu ternyata mengalami perubahan meskipun sedikit.

….Barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir…

Para ulama juga telah ber-ijma’ bahwa barangsiapa yang meyakini adanya perubahan dalam Al-Qur’an sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya, Ash-Sharimul Maslul:“Barangsiapa mengklaim bahwa Al-Qur’an telah dikurangi sebagian ayat-ayatnya, atau disembunyikan maka tidak ada perselisihan lagi tentang kekafirannya.”

[Sumber: Lajnah Ilmiah Hasmi, “Syiah Bukan Islam?” Bogor: Pustaka MIM].

An-Nushairiyah bag 4

Comments: (0)
Akidah, Ibadah, dan Akhlak Kelompok Nushairiyah

Arrahmah.com – Seperti halnya sekte-sekte Syi’ah ekstrim lainnya, kelompok Nushairiyah mengajarkan kepada pengikutnya untuk bertindak secara maksimal dalam rangka menyembunyikan ajaran agamanya. Buku yang dianggap sebagai Kitab suci mereka, Al-Haft Asy-Syarif, sangat menekankan kewajiban menyembunyikan ajaran agamanya dari selain anggota Nushairiyah. Orang-orang yang membongkar rahasia ajaran mereka kepala publik selalu mereka bunuh dan buku karyanya dilenyapkan.

Di antaranya dialami oleh mantan pengikut Nushairiyah dari wilayah Adhanah, Turki, bernama Sulaiman Al-Adhani. Ia beralih masuk Kristen lewat aksi para misionaris Amerika. Ia membongkar ajaran Nushairiyah lewat bukunya ‘Al-Bakurah As-Sulaimaniyah’ dan buku ini sempat diterbitkan oleh misionaris Amerika di Beirut pada tahun 1863 M. Keluarganya yang masih mengikuti Nushairiyah memperdayanya untuk berkunjung ke kerabat dekatnya di propinsi kelahirannya, Ladzikiyah, Suriah. Setibanya di sana, mereka mengajaknya tinggal beberapa lama, lalu mereka membunuhnya dengan membakarnya hidup-hidup. Sejak saat itu bukunya hilang dari peredaran.

Hal serupa dialami oleh wartawan Salim Lauzi yang dibantai oleh Nushairiyah karena menulis reportase tentang pengaruh kekuasaan Nushairiyah di Tripoli, Lebanon dan sayap militernya yang dipimpin oleh Ali ‘Ied.

Kaum wanita di kalangan Nushairiyah tidak diperkenankan mengetahui ajaran kelompoknya, karena mereka dianggap lemah akal dan kawan setan. Adapun kaum laki-laki hanya diperbolehkan mengetahui ajaran kelompoknya jika telah berusia 19 tahun ke atas, dan lolos seleksi keanggotaan yang meliputi tiga jenjang. Perekrutan dan organisasi kelompok ini menyerupai sistem perekrutan dan organisasi kelompok Yahudi Freemasonry, iIuminity, dan lainnya.

Dari kitab suci mereka, Al-Haft Asy-Syarif, dan buku-buku karangan para ulama Syi’ah ekstrim Itsna ‘Asyariyah serta anggota dan mantan anggota Nushairiyah, bisa diketahui bahwa ajaran Nushairiyah adalah sebagai berikut.

Aqidah tentang Ketuhanan

    Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya (11 imam menurut golongan Syi’ah ekstrim) adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Allah Sang Pencipta menitis atau bersemayam pada diri makhluk, yaitu secara berturut-turut pada diri Habil, Syits, Sam, Ismail, Harun, Syam’un, dan Ali bin Abi Thalib.

    Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa dalam setiap periode penitisan, Allah mengangkat seorang rasul sebagai perantara antara diri-Nya dengan manusia. Para rasul tersebut secara berturut-turut adalah Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Apabila dibuat tabel, maka periode penitisan Tuhan dalam jasad manusia sejak awal mula penciptaan makhluk menurut keyakinan kelompok Nushairiyah adalah sebagai berikut:



No
   

Ilah (Tuhan) menitis pada diri
   

Rasul (Utusan Tuhan)

1
   

Habil
   

       Adam

2
   

Syit
   

       Adam

3
   

Sam
   

       Nuh

4
   

Ismail
   

       Ibrahim

5
   

Harun
   

       Musa

6
   

Sham’un (Petrus dalam agama Nashrani)
   

       Isa (Yesus dalam agama            Nasrani)

7
   

Ali bin Abi Thalib
   

       Muhammad bin Abdillah              SAW

    Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Ilah secara bathin, seorang imam secara dhahir, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak bisa mati dan tidak bisa dibunuh, tidak makan dan tidak minum.

    Akidah Nushairiyah mengajarkan bahwa Ali sebagai Ilah telah menciptakan Muhammad sebagai Rasul yang menjadi penghubung antara Ali (Ilah) dengan seluruh makhluk. Muhammad di malam hari berhubungan dengan Ali, namun di siang hari terputus hubungan dengannya. Ali Tuhan Sang Pencipta menciptakan Muhammad, lalu Muhammad menciptakan Salman Al-Farisi, lalu Salman Al-Farisi menciptakan lima anak yatim yang mengatur kehidupan di langit, bumi, dan alam. Kelima anak yatim tersebut adalah:

    Miqdad: menurut keyakinan mereka, ia adalah Rabbun naas, Tuhan pencipta manusia. Ia diberi kekuasaan untuk mengatur Guntur dan petir.
     Abu Dzar Al-Ghifari: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur pergerakan bintang-bintang dan planet-planet di angkasa.
    Utsman bin Mazh’un: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur lambung, suhu badan,  kesehatan dan penyakit manusia.
    Abdullah bin Rawahah: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan mengatur pergerakan angin dan mencabut nyawa manusia.
    Qunbur bin Kadan: menurut keyakinan mereka, ia diberi kekuasaan meniupkan nyawa ke dalam jasad janin.

    Allah memiliki unsur isim (nama) dan makna, atau lahir dan batin. Unsur lahir adalah isim yang terdiri dari tiga huruf; alif, sin, dan mim. Tiga huruf tersebut dibaca dari belakang; mim, sin, dan alif. Mim artinya Muhammad bin Abdullah SAW disebut juga as-sayyid al-mim, sin artinya Salman Al-Farisi disebut juga al-bab, dan alif artinya Al-Miqdad bin Aswad disebut juga Rabbun Nas (Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemberi rizki manusia). Maka Nushairiyah meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib selaku Tuhan telah menciptakan Muhammad bin Abdullah SAW, lalu Muhammad menciptakan Salman Al-Farisi, lalu Salman Al-Farisi menciptakan Al-Miqdad bin Aswad, dan Al-Miqdad menciptakan seluruh manusia. Maka mereka menyebut Al-Miqdad adalah rabbun nas. Adapun unsur bathin Allah terwujud dalam diri Ali bin Abi Thalib.

Dari penjelasan di atas, para ulama dan pakar sekte menjelaskan bahwa sesungguhnya ajaran kelompok Nushairiyah tentang ketuhanan merupakan adopsi dari ajaran berbagai agama dan sekte sesat yang berlainan, yaitu:

    Paganisme, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang mengagung-agungkan bintang, planet, dan benda-benda langit.
    Nashrani, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang menyatakan unsure ketuhanan dalam trinitas: Ali-Muhammad-Saman.
    Syi’ah Itsna Asyariyah, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang menyatakan para imam mereka berturut-turut adalah Ali dan kesebelas anak-turunannya sebagaimana keyakinan kelompok Syi’ah Itsna Asyariyah.
    Majusi Mazdakisme, dalam wujud ajaran Nushairiyah yang mengajarkan menghalalkan semua larangan agama (menghalalkan khamr, zina, homoseksual, dan lesbian), menyatakan semua perintah agama telah gugur, dan memperingati hari raya Majusi, Nairuz.

(Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 341-354, An-Nushairiyah hlm. 14-30, Thaifah An-Nushairiyah hlm. 43-55, dan Mausu’ah Firaq Syi’ah, hlm. 116-119)



Akidah tentang Pahala dan Siksa

Kelompok Nushairiyah meyakini reinkernasi. Menurut akidah mereka, ketika seorang manusia telah mati maka ruhnya akan menitis pada jasad yang lain sesuai dengan jenis amalan yang ia kerjakan semasa hidupnya. Dengan demikian, mereka tidak meyakini pahala yang dibalas dengan kenikmatan surga dan dosa yang dibalas dengan siksa di neraka. Mereka tidak meyakini adanya kehidupan alam barzakh dan alam akhirat.

Di sisi lain, mereka meyakini bahwa ada alam ruh yang tinggi di langit, yang dihuni oleh makhluk-makhluk yang tinggi lagi mulia, yaitu bintang-bintang dan planet-planet. Mereka meyakini bintang-bintang dan planet-planet tersebut memancarkan limpahan cahaya secara terus-menerus pada ketujuh tingkatan langit sesuai tingkatannya masing-masing. Mereka meyakini ruh seorang mukmin (versi mereka) berinkernasi dalam wujud tingkatan-tingkatan yang berbeda di kalangan penghuni alam ruh di ketujuh langit. Mukmin sejati, menurut mereka, akan berinkernasi menjadi bintang yang cahayanya terang dan kuat.

Adapun ruh orang-orang kafir dan jahat (versi mereka) akan berinkernasi dalam wujud semua benda dan makhluk di alam raya ini selain wujud manusia. Mereka akan berinkernasi menjadi batu, pohon, air, garam, benda mati, hewan yang biasa disembelih dan dimakan maupun hewan yang tidak biasa disembelih dan dimakan. Bila berinkernasi dalam wujud hewan yang biasa dimakan maupun tidak, maka mereka akan mati, berinkernasi, mati, berinkernasi, dan terus-menerus mengalami proses inkernasi tersebut sebanyak seribu kali kematian dan seribu kali disembelih.

An-Nushairiyah bag 3

Comments: (0)
Serial Kajian Syiah Ekstrim Nushairiyah: Membongkar kesesatan dan kekejaman Rezim Suriah (3)

Saif Al Battar

Selasa, 16 Agustus 2011 11:16:20

Hits: 1700

Perkembangan Nushairiyah

Tokoh-tokoh yang paling berperan dalam menyebarkan sekte Nushairiyah sejak zaman pendirinya adalah sebagai berikut:

    Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair An-Numairi, pendiri gerakan ini. Ia mengklaim dirinya adalah nabi dan al-bab yang menghubungkan kaum Syi’ah dengan imam kesebelas mereka, Abul Hasan Al-Askari, dan terakhir mereka, Muhammad Al-Mahdi bin Abul Hasan  Al-Askari. Ia meyakini Ali dan para imam keturunannya adalah Tuhan, meyakini reinkarnasi, menghalalkan homoseksual dan menikah dengan mahram. Ia mengambil kota Samira sebagai pusat gerakannya, sampai ia mati pada tahun 260 H (atau tahun 270 H menurut keterangan sebagian pakar sejarah).

    Pemimpin dan propagandis kedua adalah Muhammad bin Jundab. Riwayat hidup dan propaganda serta seberapa besar perannya bagi perkembangan gerakan Nushairiyah masih terlalu rumit untuk diungkapkan. Namun kelompok Nushairiyah mengakuinya sebagai pemimpin kedua mereka.

    Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Hanan Al-Janbalani adalah penerusnya yang menggantikannya sebagai al-bab. Ia tinggal di daerah Janbalan, Iran dan membentuk sebuah tarekat sufi Syi’ah bernama tarekat Janbalaniyah. Ia memimpin Nushairiyah sampai saat ia mati tahun 287 H.

    Husain bin Ali bin Husain bin Hamdan Al-Khusaibi. Al-Jambalani merekrutnya sebagai murid utama saat ia menyebarkan pemikirannya di Mesir. Al-Khusaibi mengikuti gurunya ke Janbalan, mendalami ajaran sektenya, sampai diangkat sebagai pengganti gurunya. Ia lantas meninggalkan Iran dan pergi ke Iraq. Ia menyebarkan dakwahnya dan memimpin sektenya dengan Baghdad sebagai pusat gerakannya mempergunakan pengaruh kekuasaan Bani Buwaih. Saat itu kekuasaan daulah Abbasiyah dikendalikan oleh Bani Buwaih, sebuah marga Syi’ah ekstrim dari Persia. Sebagai penguasa beraliran Syi’ah ekstrim, Bani Buwaih mempergunakan kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk mendukung semua gerakan Syi’ah, termasuk Nushairiyah dan Syi’ah Isma’iliyyah. Tak heran apabila selama 113 tahun masa kekuasaan Bani Buwaih, 334-447 (945-1055 M), Nushairiyah mendapatkan keleluasaan untuk bergerak dan menyebar luaskan ajarannya. Oleh karenanya, kelompok Nushairiyah menganggap para penguasa Bani Buwaih adalah pemimpin suci mereka.

 

An-Nushairiyah bag 2

Comments: (0)

Serial Kajian Syiah Ekstrim Nushairiyah: Membongkar kesesatan dan kekejaman Rezim Suriah (2)

Saif Al Battar

Ahad, 14 Agustus 2011 22:09:51

Hits: 1688

Awal Pembentukan Nushairiyah

Nushairiyah adalah gerakan Bathiniyah Syi’ah ekstrim yang muncul pada abad ketiga hijriyah. Nama Nushairiyah diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Nushair An-Numairi, yang memiliki kunyah (nama panggilan) Abu Syu’aib. Ia berasal dari Persia dan merupakan seorang penganut Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Ia hidup sezaman dengan tiga imam Syi’ah Itsna Asyariyah, yaitu imam kesepuluh Ali Al-Hadi (214-254 H), imam kesebelas Hasan Al-Askari (230-260 H), dan imam fiktif (imam Al-Mahdi Al-Muntazhar) Muhammad  bin Hasan Al-Akari (255 H…). Menurut para pakar sekte Syi’ah, pada awalnya ia adalah maula (budak yang dimerdekakan) oleh imam kesebelas kaum Syi’ah, Al-Hasan Al-‘Askari. Namun Al-Hasan Al-‘Askari memiliki sikap yang keras Abu Syu’aib karena Abu Syu’aib memiliki banyak keyakinan dan ucapan kufur.

 Abu Syu’aib terlibat perselisihan yang tajam dengan para pengikut Syi’ah Itsna ‘Atsariyah lainnya. Ia mengklaim dirinya sebagai al-bab (penghubung antara kaum syi’ah dengan imam mereka) bagi imam ke-11 Al-Hasan Al-Askari dan imam ke-12, Muhammad bin Hasan Al-Askari yang dijuluki Al-Mahdi Al-Muntazhar. Klaim ini ditolak oleh seluruh kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah lainnya. Karena menurut mereka, al-bab bagi imam ke-11 adalah empat orang, yaitu Utsman bin Sa’id Al-‘Amri, Muhammad bin Utsman bin Sa’id, Husain bin Ruh An-Naubakhti, dan Ali bin Muhammad As-Samiri. (Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Al-Islami: Aqaiduha wa Hukmul Islam fiiha, Oman: Maktabah Al-Aqsha, cet. 2, 1406 H, hlm. 322-323 dan Ath-Thusi, Kitab Al-Ghaibah, hlm. 241-242)

Akibat perselisihan ini, Ibnu Nushair kemudian memisahkan diri dan membentuk kelompok sendiri yang kelak disebut NUSHAIRIYAH. Ia memimpin kelompok Nushairiyah sampai ia meninggal, tahun 260 H (ada juga pakar sejarah yang menyatakan ia meninggal tahun 270 H).

Sebagaimana seluruh sekte Syi’ah ekstrim lainnya, Nushairiyah juga meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Sumber-sumber Syi’ah sendiri menyebutkan bahwa Al-Hasan Al-‘Askari menulis surat peringatan kepada para pengikutnya yang isinya, “Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari Ibnu Nushair An-Numairi dan Ibnu Baba Al-Qumi. Aku berlepas diri dari keduanya. Aku memperingatkanmu dan memperingatkan seluruh mawali (pengikut)ku dari keduanya. Aku memberitahukan kepada kalian bahwa aku melaknat kedua orang itu. Semoga laknat Allah ditimpakan kepada keduanya. Keduanya adalah tukang pembuat fitnah dan perusuh. Semoga Allah menyiksa keduanya, mengirimkan keduanya ke dalam fitnah, dan menjungkir balikkan keduanya di atas fitnah.” (As-Sayid Abdul Husain Mahdi Al-Askari Asyi’i, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyyah, hlm. 4)

Al-Hasan Al-‘Askari mengutuk Ibnu Nushair karena ia mengklaim dirinya sebagai nabi dan al-bab (pintu penghubung dengan imam Al-Mahdi Al-Muntazhar, imam ke-12 versi Syi’ah), mengklaim para imam ahlul bait adalah Ilah (tuhan yang berhak disembah), meyakini reinkarnasi, menghalalkan khamr dan homoseksual, dan pendapat-pendapat keji lainnya.

Seluruh literatur Syi’ah sendiri mengakui bahwa Ibnu Nushair An-Numairi telah mengkaim dirinya sebagai seorang nabi dan al-bab, meyakini ketuhanan Ali dan ahlul bait, meyakini reinkarnasi, menghalalkan homoseksual dan khamr, dan perbuatan bejat lainnya. Berita lengkap tentang Ibnu Nushair juga ditulis oleh ulama Syi’ah, As-Sayid Abdul Husain Mahdi Al-Askari Asy-Syi’i, dalam bukunya yang berjudul “Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah” dengan mengambil rujukan kepada sumber-sumber terpenting (para ulama besar) Syi’ah seperti Sa’ad Al-Qumi (dalam bukunya Al-Maqalat wal Firaq), An-Naubakhti (dalam bukunya Firaq Asy-Syi’ah), Abu Umar Al-Kasyi (dalam bukunya Rijalul Kasyi), Abu Ja’far Ath-Thusi (dalam bukunya Rijaluth Thusi dan Kitab al-Ghaibah), Al-Halabi (dalam bukunya Ar-Rijal), Ath-Thibrisyi (dalam bukunya Al-Ihtijaj), dan DR. Musthafa Asy-Syibi (dalam bukunya Ash-Shilah baina At-Tashawwuf wa at-Tasyayyu’).

Just select text on the page and get instant translation from Google Translate!
Google Translate Client